Berpuisi Bersama Pohon Bernyanyi – Akhudiat

by Sing Mbaurekso Gubug on July 3, 2012

Malam itu masih bisa dibilang sore, namun bapak-bapak yang umurnya diatas 50 tahun sudah pada kumpul di Gayungsari Barat. Aku perhatikan senyum mereka satu per satu, sepertinya mereka baru saja bertemu setelah sekian lama tak bertemu. Penampakan mereka cukup aneh, ada yang pakai batik, ada yang jenggotnya super panjang dan berwarna putih bersih, ada yang sperti dukun, dan lain sebagainya. Aku manggut-manggut saja, ya begitulah penampakan orang yang suka akan kesenian, memiliki ciri khas yang dijunjung oleh pribadi masing-masing.

Suasana Gayungsari Barat yang semula sepi menjadi semakin ramai saat kawula tua-muda memenuhi pelataran rumah nomor 25-27 itu. Tampak seorang Akhudiat, penulis buku antologi puisi Pohon Bernyanyi yang sedang duduk dikerumuni teman-teman lamanya. Dia menunggu acara dimulai sambil ngobrol dan tertawa bersama teman-temanya.

Tunggu dulu, kenapa aku tiba-tiba nulis hal diatas?? Kenapa aku ada di Gayungsari Barat malam itu? Padahal hari itu Final Euro 2012 Spanyol vs Italia yang seharusnya aku nonton bareng arek-arek kontrakan… Oh iya, aku dimintai tolong sama Pak Andi untuk dateng dan sekalian acaranya juga ada nonton barengnya, akhirnya aku datang deh… Dan daripada ndak ada update blog ini, mendingan kan ditulis. Yawes nulisnya santai aja yak, ga usah pake bahasa baku, pegel kabeh…

Acara malem itu aku pandang acara yang sangat jarang dilakukan di Surabaya. Soalnya orang-orang tua ang aku ceritakan tadi sueneng banget, bener-bener kayak ndak pernah ketemu ratusan tahun. Untung aku ndak denger bahasa “Nandi ae cuk, kon iku sik urip ae cuk..“, ya acaranya sopan, santai, ndak terlalu formal, dan bersahabat. :) Acara ini diberi judul “BEDAH BUKU”, astaga aku baru nyadar ternyata memang judul acara cuman BEDAH BUKU… Ini posternya…

Poster Undangan Acara BEDAH BUKU

Acaranya asik juga, dimulai sambutan-sambutan yang ndak bikin bosan, *soalnya bentar dan melihat orang yang pada temu kangen itu membahagiakan ngono* dan setelah sambutan satu dua, mulai pementasan. Pementasan pertama dibacanya puisi dan diiringi lantunan musik (gitar dan seruling bambu) oleh Ari Setiawan & Wedang Jahe, dan diiringi pantomim tari-tarian dari mas siapa gitu (kalau ndak salah Wedang Jahe itu satu grup aku juga ndak begitu ngerti), keren pokokknya.

Setelah dibaca beberapa puisi oleh Ari Setiawan & Wedang Jahe, giliran satu per satu undangan yang memang sudah dijadwalkan membaca puisi dipersilakan ke depan. Lumayan banyak sampai ndak sempet ngitung aku..

Sampai akhirnya Pak Akhudiat sendiri yang maju dan bercerita mengenai kumpulan puisinya itu. Di depan pak Diat membaca puisinya dengan lantang, lantas tentang apa sih puisi-puisinya? Dan bagaimana proses kreatifnya?

Yang masih aku inget dari perkataan beliau sih proses kreatifnya nyantai aja, beliau nunggu tiba-tiba dapat ilham, atau wangsit, atau apalah di kepala dan kemudian ditulisnya. Kadang wangsit yang datang banyaaak, kadang sedikit bahkan tidak ada. Akhirnya kumpulan puisinya baru saja terbit padahal puisi-puisi itu ada yang dibuat tahun ’60 atau ’70an.

Kalau soal isinya, yang namanya kumpulan puisi ya macam-macam. Puisi ini melewati masa orde baru dan reformasi, jadi gaya berpuisi juga berbeda. Namun yang tetap sama adalah ceplas-ceplosnya. Aku inget satu puisinya tentang penjual video porno, disebutnya pornografer. Diceritakan pak Diat dalam puisinya kalau si pornografer itu bingung setengah mati saat ada obrakan Polisi, dan akhirnya lompat ke sungai lalu mati. Puisi ini menggebu-gebu sih, mending membaca sendiri baru tahu feel-nya. :)

Lalu aku inget lagi soal pemberian judul buku “Pohon Bernyanyi”. Jaman dahulu kala di deretan Jalan Raya Diponegoro (Surabaya) selalu ramai hingga malam hari. Di jalan itu terdapat pohon-pohon besar nan rimbun. Setiap malam pohon itu tidak sendiri, mereka ditemani bidadari-bidadari yang turun dari Sidokumpul, Gang Dolly, Kembang Kuning, Jarak, dll… Bidadari-bidadari cantik itu setia menyanyi menemani pohon di Raya Diponegoro, memanggil lelaki yang sekiranya mau membawa cinta nan penuh komersialitas.

Ya begitulah kenapa disebut “Pohon Bernyanyi”. Awalnya sih mikir, ternyata setelah tahu ceritanya, jadi senyum-senyum sendiri..  Hahaha..

Berikut sedikit dokumentasi amatirku…

 

{ 1 comment… read it below or add one }

Aditia Rahman July 11, 2012 at 4:15 pm

Good Job Bradeerr..
Acara selanjutnya ya yang tanggal 14 jam 9 di Gedung Pusura :D

Reply

Leave a Comment

*

Previous post:

Next post: