Bahasa Jawa, Bahasa Surabaya, Bahasa Malang

by Sing Mbaurekso Gubug on May 27, 2010

Cukup aneh memang perbedaan ketiga bahasa ini. Namun sebenarnya apa memang benar-benar berbeda antara bahasa Jawa, Bahasa Suroboyoan, dan bahasa Kera Ngalam? Atau hanya perbedaan logat saja? Nah, disini saya hanya mau mengeluarkan pendapat saja, dilihat dari sudut pandang Sing Mbaurekso Gubug sendiri lo.

Loh kenapa kok dari sudut pandangmu kekk?? Emange dirimu kuwi sopo? Aheli bahasa po piye?

Ehm, saya ini bukan ahli bahasa Jawa, ahli bahasa Surabaya, maupun ahli bahasa Malang. Namun saya pernah hidup di tiga kota yang mencerminkan perbedaan ketiga bahasa tersebut. Jadi disini hanya saya bahas dari pengalaman saya saja. Nanti kalo ada yang salah, ya mohon dikritik pakai lombok 100 biji ya? Biar saya mbrebes, sampai banjir bulu mata saya yang lentik ini. :p

Sudah saya jelaskan, kalau saya ini anak dari desa yang namanya Trenggalek. Saya pernah hidup di Malang juga untuk menuntut ilmu selama beberapa bulan saja. Namun sekarang saya hidup di Gubug Reyot yang ada di Surabaya. Jadi ceritanya Gubug Reyot ini ada di tengah-tengah gedung bertingkat. :p

Di ketiga kota tersebut, memiliki bahasa dan logat yang berbeda. Makanya jadi satu artikel ini. Hee… Trenggalek adalah kota kecil yang dekat, oh maaf, agak dekat dengan keraton Jogja. Jadi bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Jawa nyel, mirip dengan bahasa Jawa yang digunakan keraton (meskipun lebih kasar). Di Trenggalek masih dijunjung tinggi unggah ungguh boso Jowo, atau yang lebih dikenal dengan tingkatan bahasa. Yaitu bahasa krama inggil (kromo alus, sangat sopan), krama (bahasa biasa, tingkatannya sedang), dan ngoko (tingkat remdah, kasar).

Jadi di Trenggalek apabila berbicara dengan bahasa Jawa tidak boleh sembarangan. Harus dilihat kita berbicara dengan siapa. Apabila berbicara dengan orang tua, hendaknya berbahasa krama alus. Istilahnya injih mboten (iya dan tidak). Apabila berbicara dengan orang yang lebih tua juga begitu. Kepada orang yang baru kenal, meskipun sepadan umurnya, bisa digunakan basa krama, istilahnya nggih mboten. Sedangkan dengan teman, atau anak yang lebih muda, bisa digunakan bahasa ngoko, istilahnya iyo ora. Kata ora memiliki sinonim yaitu endak atau ndak. Nah, apabila sampeyan ndak menggunakan bahasa ini (unggah-ungguh boso), biasanya akan disebut “ora Jowo“, alias ndak ngerti sopan santun.

Perlu diingat, diri sendiri tidak boleh dibahasakan kromo alus ataupun kromo. Misalnya untuk kalimat “Kulo sampun siram bu” (Saya sudah mandi bu), yang benar adalah “Kulo sampun adus bu“. Kalau menyebut orang lain, ini yang harus dibahasakan. Misalnya, “Bapak sampun siram“.

Berbeda dengan di Surabaya atau Malang, unggah-ungguh boso sudah ditinggalkan oleh sebagian besar pengguna bahasa. Masyarakat Surabaya dan Malang generasi baru tidak lagi memakai boso kromo untuk berkomunikasi. Jadi yang ada dalam kehidupan sehari-hari adalah boso ngoko. Kalaupun ada basa krama, paling tidak sampai ke kromo inggil.

Bahasa di Surabaya dan Malang sudah terkenal “kasar” bagi pendatang dari Jogja maupun yang terbiasa dengan bahasa Jawa murni. Bahasanya terkenal “nggontok”, banyak memiliki akhiran “o” pada kata-katanya(“a” untuk Malang). Bagi saya sendiri, pertama datang ke Surabaya atau Malang, saya ndak ngerti apa itu “mene“, “embong“, dan lain-lain. Karena di bahasa Jawa kata-kata itu tidak ada. Jadi keuntungan berbahasa Jawa ala Surabaya dan Malang tidak usah berfikir panjang untuk berkomunikasi, lha wong tingkatan bahasa sudah sering dilupakan. Mau ngomong apa pun dengan orang yang lebih tua ya tinggal ngomong seperti dengan teman sendiri saja. Misalnya menyapa dengan sebutan “kon” yang universal di Surabaya dan Malang. :)

Kon atau kamu, bisa dianggap sangat kasar oleh orang Trenggalek. Biasanya kan menyapa “kamu” harus dengan sebutan “panjenengan” atau “njenengan” kepada orang tua, “sampeyan” kepada kakak, “awakmu” kepada teman, dan “kowe” kepada orang yang paling tidak dihormati (dan orang yang lebih muda).

Huff… panjang sekali artikel ini… Oke saya potong disini saja. Nanti ada seri selanjutnya membahas tentang bahasa Malang dan Surabaya lebih detail. Hee… Maaf ya mas ngganteng dan mbak ayu, ini yang nulis keriting drijinya. Kalau mau liat kamus istilah Jawa di Gubug Reyot ya silakan. :)

{ 51 comments… read them below or add one }

Leave a Comment

*

{ 2 trackbacks }

Previous post:

Next post: