Bahasa Jawa, Bahasa Surabaya, Bahasa Malang

Cukup aneh memang perbedaan ketiga bahasa ini. Namun sebenarnya apa memang benar-benar berbeda antara bahasa Jawa, Bahasa Suroboyoan, dan bahasa Kera Ngalam? Atau hanya perbedaan logat saja? Nah, disini saya hanya mau mengeluarkan pendapat saja, dilihat dari sudut pandang Sing Mbaurekso Gubug sendiri lo.

Loh kenapa kok dari sudut pandangmu kekk?? Emange dirimu kuwi sopo? Aheli bahasa po piye?

Ehm, saya ini bukan ahli bahasa Jawa, ahli bahasa Surabaya, maupun ahli bahasa Malang. Namun saya pernah hidup di tiga kota yang mencerminkan perbedaan ketiga bahasa tersebut. Jadi disini hanya saya bahas dari pengalaman saya saja. Nanti kalo ada yang salah, ya mohon dikritik pakai lombok 100 biji ya? Biar saya mbrebes, sampai banjir bulu mata saya yang lentik ini. :p

Sudah saya jelaskan, kalau saya ini anak dari desa yang namanya Trenggalek. Saya pernah hidup di Malang juga untuk menuntut ilmu selama beberapa bulan saja. Namun sekarang saya hidup di Gubug Reyot yang ada di Surabaya. Jadi ceritanya Gubug Reyot ini ada di tengah-tengah gedung bertingkat. :p

Di ketiga kota tersebut, memiliki bahasa dan logat yang berbeda. Makanya jadi satu artikel ini. Hee… Trenggalek adalah kota kecil yang dekat, oh maaf, agak dekat dengan keraton Jogja. Jadi bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Jawa nyel, mirip dengan bahasa Jawa yang digunakan keraton (meskipun lebih kasar). Di Trenggalek masih dijunjung tinggi unggah ungguh boso Jowo, atau yang lebih dikenal dengan tingkatan bahasa. Yaitu bahasa krama inggil (kromo alus, sangat sopan), krama (bahasa biasa, tingkatannya sedang), dan ngoko (tingkat remdah, kasar).

Jadi di Trenggalek apabila berbicara dengan bahasa Jawa tidak boleh sembarangan. Harus dilihat kita berbicara dengan siapa. Apabila berbicara dengan orang tua, hendaknya berbahasa krama alus. Istilahnya injih mboten (iya dan tidak). Apabila berbicara dengan orang yang lebih tua juga begitu. Kepada orang yang baru kenal, meskipun sepadan umurnya, bisa digunakan basa krama, istilahnya nggih mboten. Sedangkan dengan teman, atau anak yang lebih muda, bisa digunakan bahasa ngoko, istilahnya iyo ora. Kata ora memiliki sinonim yaitu endak atau ndak. Nah, apabila sampeyan ndak menggunakan bahasa ini (unggah-ungguh boso), biasanya akan disebut “ora Jowo“, alias ndak ngerti sopan santun.

Perlu diingat, diri sendiri tidak boleh dibahasakan kromo alus ataupun kromo. Misalnya untuk kalimat “Kulo sampun siram bu” (Saya sudah mandi bu), yang benar adalah “Kulo sampun adus bu“. Kalau menyebut orang lain, ini yang harus dibahasakan. Misalnya, “Bapak sampun siram“.

Berbeda dengan di Surabaya atau Malang, unggah-ungguh boso sudah ditinggalkan oleh sebagian besar pengguna bahasa. Masyarakat Surabaya dan Malang generasi baru tidak lagi memakai boso kromo untuk berkomunikasi. Jadi yang ada dalam kehidupan sehari-hari adalah boso ngoko. Kalaupun ada basa krama, paling tidak sampai ke kromo inggil.

Bahasa di Surabaya dan Malang sudah terkenal “kasar” bagi pendatang dari Jogja maupun yang terbiasa dengan bahasa Jawa murni. Bahasanya terkenal “nggontok”, banyak memiliki akhiran “o” pada kata-katanya(“a” untuk Malang). Bagi saya sendiri, pertama datang ke Surabaya atau Malang, saya ndak ngerti apa itu “mene“, “embong“, dan lain-lain. Karena di bahasa Jawa kata-kata itu tidak ada. Jadi keuntungan berbahasa Jawa ala Surabaya dan Malang tidak usah berfikir panjang untuk berkomunikasi, lha wong tingkatan bahasa sudah sering dilupakan. Mau ngomong apa pun dengan orang yang lebih tua ya tinggal ngomong seperti dengan teman sendiri saja. Misalnya menyapa dengan sebutan “kon” yang universal di Surabaya dan Malang. 🙂

Kon atau kamu, bisa dianggap sangat kasar oleh orang Trenggalek. Biasanya kan menyapa “kamu” harus dengan sebutan “panjenengan” atau “njenengan” kepada orang tua, “sampeyan” kepada kakak, “awakmu” kepada teman, dan “kowe” kepada orang yang paling tidak dihormati (dan orang yang lebih muda).

Huff… panjang sekali artikel ini… Oke saya potong disini saja. Nanti ada seri selanjutnya membahas tentang bahasa Malang dan Surabaya lebih detail. Hee… Maaf ya mas ngganteng dan mbak ayu, ini yang nulis keriting drijinya. Kalau mau liat kamus istilah Jawa di Gubug Reyot ya silakan. 🙂

Author: Sing Mbaurekso Gubug

Seorang blogger. Suka makan tiwul kalau di Trenggalek. Jarang makan, semoga suatu saat mendapat jodoh seseorang yang suka memperhatikan dan pinter masak... Amiin... Hmm.. tuit tuitan yuk, saling follow!! >> @subebeck

53 thoughts on “Bahasa Jawa, Bahasa Surabaya, Bahasa Malang”

  1. Tapi ya enggak mesti koq, Mas. Arek Suroboyo/Malang kalo ngomong ama orang yang dituain/dihormati nyebutnya “sampeyan”, bukan “kon”, biarpun kosakata dalam komunikasi tetap ngoko.

  2. Kok sama yah pengalamannya, aku yang asli soloraya, pertama kali di surabaya and friends sumpah aneh dan kasar tapi klo dah tau enak juga ngomong ala suroboyoan, ‘n tambah aneh lagi kalo surabaya ke timur…sudah nyampur ama medureh…

  3. Hehehe… Ah, ndak gitu juga, kok. Saya anak Malang, tapi fasih berbahasa krama.
    Pola berbahasa kami memang berbeda dgn pakem yg diajarkan di sekolah. Bahasa krama cenderung kami gunakan untuk bicara dengan orang yg baru dikenal/ditemui, tak memandang usia. Namun, pada orang yg sudah akrab (keluarga, teman, saudara) kami memang cenderung menggunakan bahasa biasa (yg oleh orang disebut ngoko).

    Kebetulan, sudah empat tahun ini saya tinggal di jogja. Polanya memang berbeda sekali dgn Malang. Namun yg saya tangkap, bukan berarti orang Malang tidak sopan. Itu adalah bentuk rasa egaliter terhadap sesama. Secara sosio kultural, Malang sendiri jauh dari pusat kerajaan Mataram (alias jauh dr hirarki), sehingga kultur hirarki bahasa itu pun tak bisa berkembang pesat.

    Secara personal, saya lebih suka gaya egalitarian ala Malang. Tidak pake tipu-tipu, lugas, jujur, to the point. Hoho..

    1. Saya setuju sekali dengan pendapat teman-teman dimulai dari mbak ema. Bahwa semua itu adalah tentang pola penggunaan bahasa. Pola bahasa Jawa tengahan memang berbeda dengan pola bahasa Malangan yang lebih egaliter. Bukan soal kasar, halus, sopan atau tidak sopan.

  4. yang perlu penulis tw itu bahasa jogja juga bkan bahasa yang paling bner sendiri..soalnya klo bicara tentang bhasa jawa itu sangat luas…karena bahasa jawa tang asli itu pasti bahasa jawa kuno..sekarang bhsa jawa sudah jelas berbda dgan bhsa jawa jaman dulu…saya jg tinggl di jogja..anak2 dsini dsini cenderung pake bhasa kasar jg…jarang yg pke bhsa kromoo..walaupun adA jg kromo campur2..alias gk fasih bhsa kromo..klo anda bilang deket keraton..mojokerto itu dulu jg bekas keraton majapahit lo..bukan hanya 3 kota itu mas yg berbeda..bahkan setiap kab. itu berbeda bhasanya..jangankan jogja trengglek..jogja ,pati.,solo.itu beda jauh mas..yang paling benar itu bahasa jawa itu berbeda di setiap daerah..tetapi sama bhasa kromonya…cba anda buka di wikepedia..perbedaan bhsa jawa ini

  5. kamu orang trengglek ya mas?coba maen ke jogja mas..ntar kmu jgan kaget klo di panggil koe mas.pdhal di jatim kasar tu mas..dan anda jg pasti gk ngerti istilah2 disana..yg pasti beda jauh ma bhsa anda mas

  6. sebenarnya klo bicara bhasa malang ,surabaya,mataraman ,atau jawa tengahan.dll.itu bkan soal halus dan kasarnya..tetapi watak atau karakter orangnya..yg benar itu orang srabaya malang memang terlihat to the poin,klo ngomong gk apa adanya dan tanpa pikir panjang,tpi klo orang yogya atau solo itujaga di depan bagus tpi di belakang sama aja ..dan memang logat surabaya malang keliatan agak gmna gtu..tpi sama aja yogya pun ngomongnya kasar..ngomongnya pun blak blakan jg…tpi ya begitu lah namanya orang pgen menang sendiri..orang jateng bilang jatim kasar..tpi saya orang jatim pun bilang orang jateng kasar…karena menurut bhasa kita sendiri2 memang beda aturannya..menurut saya bahasa yogya solo jateng itu katrok..contohnya pye to.ngopo?saya malah lebih suka orang sby..yg kliatannya gaul..dgan kata yo opo se?iyo ta?iku ta?bkan kui to?haduh katrok bget..klo bhsa sby kliatan romantis n gk ndeso…

    1. secara arek Jatim….
      pas aku nang Jogja (Study Wisata),bhs’e bedo.. tp wong Jogja yo eroh bahasaku.. tp nek ngomong bedo jauh… hehehe….

      by: Sidoarjo,Jatim

  7. wes ojok rame-rame ae. opo koen wes mangan. kono mangan’no disek. cek gak masok angin. hahahahahha,,… yo ngono iku bosone wong suroboyo. kalau di daerah tandes benowo gersik dan lamongan masih di pakai engson lan panjenengan sak kabene dan awak’e riko hahahahahhahah,,…. antik kan orang jawa-timur

  8. Hehehehe,,, naminipun njih piantun Indonesia,,,njih hal2 ingkang kados mekaten niku ingkang damel bangsa Indonesia…Sanajan benten tapi tasih satunggal…
    bener ta salah ki,,,,wkwkwkwkwkwkwkwkwk….pokoe jowo is the best…

  9. Sing Mbahu Rekso “Gubug Reyot”,
    Panjenengan meniko sak jane sampun dados pribadi ingkang linuwih, amargi kerso nglestari boso Jowo ingkang sakmeniko kathah pemuda-pemudi, remaja Jowo ingkang mboten saged coro Jowo amargi pindah datheng Jawa Barat utawi DKI Jakarta.
    Kulo salut datheng panjenengan. Kulo piyambak ingkang dados penulis buku nembe wiwitan ndamel konsep Kamus Gaul Bahasa Jawa, ananging saenggo sapriki dereng dados dereng mumpuni, taksih kathah ingkang dereng dilebetaken. Boso Jowo meniko katah, kathah sanget, amargo mboten namung bandhek-an ala Yogya- Solo, ala Suroboyoan, ananging kados kulo tiyang Banyumas ugi wonten istilah boso Jowo ngapak, dereng ugi wonten boso Jowo Indramayon saking tlatah Indramayu. Matur ksuwun.

    1. Salam kenal Mas Sukamto..
      Seandainya saya ada banyak pertanyaan tentang bahasa jawa ala Malang untuk nyusun skripsi, mohon berkenan menjawab yaaa..bole tau alamat emailnya?

      Matur nuwun, Lusi di Batam (Arek Malang)

  10. walah…rame juga ya?…ada kera ngalam juga…salam satu jiwa deh, ayas kadit itreng osob kiwalan, boso kromo juga ra ngerti betul karena seharinya lebih pake bhs. Indonesia campur ngoko sih…byk Indonesianya…yah, whateverlah…bahasa Jawa emang kaya. setiap wilayah skalipun berdekatan pasti beda dialeknya…apalagi klo mau dengar bahasanya saudara kita dari etnis Tionghoa pasti lebih unik lagi and dijamin beda dari sesama etnis mereka di daerah lain. Cuma satu yang pasti dan yang jelas, menurutku pribadi justru logat atau dialek jawa timuran adalah yang paling susah ditiru apalagi secara instant tanpa pernah tinggal bareng, contohnya para bintang pilem yang didapuk jadi orang jawa timur dialeknya pasti lebih ke kulonan (jare wong Jatim) alias dialek Jogja atau Solo bukan Suroboyoan seperti yg seharusnya…begitulah pengamatan saya…. :p

    (puanjang and dhuowoooo uey! ngapunten…)

  11. Selamat malam, Mas,
    Saya diubesarkan dalam dua budaya, jawa mataraman (wialayh jawa yg mendapat pengaruh besar dari keraton surakarta dan Jogjakarta) dan jawa ala jawa timuran dan jawa suroboyoan. Tidak benar bahwa org suroboyo boleh menggunakan kata “koen (atau dalam tulisan mas sendiri hanya ditulis “kon”) yg artinya kamu pada orang tua atau org yg dianggap tua. walaupun org Surabaya kasar bhs Jawanya, tp tetap mereka tau unggah ungguh berbahasa. Pada org tua, org surabaya asli atau ala suroboyoan, mereka menggunakan kata “sampeyan” yg dalam bahasa jawa mataraman menjadi bagian dari kromo madya, atau kromo yg digunakan unt org yg lebih tua tp derajat (tingkat sosial)nya rendah seperti pada tukang becak, penjual di pasar dll. Demikian penjelasan saya. Semoga berkenan. Pareng.

  12. wahhhh…perdebatan ini adalah bukti klo masi banyak yang mengerti dan peduli ma bahasa jawa hehehe.. maju terus lestarikan bahasa jawa..saya sendiri arek Malang tapi jarang berbahasa jawa halus bahkan sampai sering menghindar ketemu sama om saya yang selalu berbahasa halus hehehe.. tapi sekarang saya lagi mengumpulkan data-data bahasa jawa ala Malang untuk bahan skripsi sastra inggris. Akhir-akhir ini baru menyadari ketertarikan untuk membuat buku tentang bahasa jawa ala Malang. Di Malang sama orang yang lebih dewasa tidak boleh pakai panggilan “koen” . Biasanya pakai “sampeyan”, klo sesama temen baru pakai koen atau rek (arek-arek)..begitu..Karena saya dari Malang maka saya cinta gaya berbahasa Malang yang menurut saya lebih singkat padat jelas dan praktis hehehe.. alias opo onoke ae.. sudah dulu ya bye..

  13. penyampaiannya mungkin yang kurang tepat di artikel ini.

    aku asli Suroboyo, untuk masalah kalimat selain panggilan, emang bisa general. tapi kalo panggilan tetep sampean, njenengan. kulo, ingsun. sedoyo. memang kalo di generalisasi, Suroboyo banyak yang kasar ga peduli perbedaan umur, tapi dari general itu ada himpunan himpunan kecil yang masih menghormati orang tua. baik dengan berbicara Kromo, atau Bahasa Indonesia.

    kebanyakan sih bahasa Indonesia, selain ga repot, itu juga Bahasa Nasional. (aslinya sih emang karena tidak bisa bahasa kromo, hehehe).

  14. Ngapunten kakang mas Subebeck Laksono. Kula punika lare asli Malang. Kados wonten unen-unen cara Jawi “Seje desa mawa cara”, menawi wonten tetembungan ingkang mboten sami utawi benten antawis tlatah setunggal kalih lintunipun, kitha setunggal kalih lintunipun, desa setunggal kalih lintunipun punika lumrah. Menawi ingkang kadamel timbangan punika Yogya, Surabaya, kalih Malang, punika tebih sanget. Benten kampung mawon anggenipun ngucapaken “mboten wonten” kale ngoko, wonten kampung kula “gak onok” utawi “gonok”, wonten kampung lintu ingkang tebihipun mboten ngantos 3 km “gnok”, wonten kampung lintunipun “hnok”, punapa malih benten kitha kados Blitar, Kediri, Tulung Agung, Trenggalek, tamtu benten sanget.
    Wonten malang tembung panjenengan utawi njenengan kadamel wicanten kalih tiyang ingkang sanget dipun ajeni kados para sepuh saha pinisepuh, guru, sedherek ipe utawi tiyang ingkang yuswanipun langkung kathah tinimbang tiyang ingkang wicanten. Sampeyan punika basa ngoko kalihan tiyang ingkan langkun sepuh kados kakang/mbakyu, tiyang ingkan sekedik langkung tua, utawi tiyang ingkang dereng tepang. Kon utawi koen punika basa ngoko kangge lare ingkang ngandhapipun kados adhik, penakan, yuga, wayah lsp, utawi kangge tiyang ingkang sampun raket sesrawunganipun.
    Kasar punika gumantung tiyang ingkang mbiji. Wonten Malang basa ngokonipun “tiyang sepuh” dados “wong tua”, ingkang sering nggih “wong tuek” punika kadosipun kasar. Wonten lintunipun Malang ngokonipun “wonten” punika “enek”, wonten Malang “ono”. Tibane nggih tasih alus tiyang Malang.
    Menawi lare enem wonten Malang utawi Surabaya sak punika kirang mangertosi basa krama malangan utawi suroboyoan punika saget kranten kathahipun tiyang bara kerja utawi belajar, ugi kranten pejaran Basa Jawa ingkang dipun wucalaken sekolahan punika sanes basanipun tiyang Malang utawi Surabaya (punapa kranten tiyang Malang utawi Surabaya punika mboten wonten ingkang jawa). Menawi siswa mboten mangertosi pelajaran Basa Jawanipun, lajeng tanglet dateng tiyang sepahipun, nggih mboten saget njawab.
    Mila saking punika, menawi saget saben sekolahan dipun paringi pasinaon Basa Jawa miturut kitha utawi kabupatenipun piyambak-piyambak.
    Matur Nuwun.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *