Kafka on the Shore dan Teori Freud

by Sing Mbaurekso Gubug on June 21, 2010

Kafka on the Shore dan Teori FreudKafka on the Shore (Umibe no Kafuka) atau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai Labirin Asmara Ibu dan Anak ini adalah sebuah novel karya Murakami Haruki yang telah mendapatkan banyak sekali penghargaan.  Sebenarnya saat dulu pertama diterbikan di Jepang, novel ini banyak mendapatkan cemoohan. Kafka on the Shore dalam teori perbandingan (dibandingkan dengan karya besar penulis Jepang lainnya) dianggap tidak sepadan. Sehingga orang Jepang/pengamat sastra Jepang menganggap novel ini adalah karya Murakami yang gagal. Tidak sepadan disini maksudnya adalah seperti analogi berikut:

Apabila sampeyan ingin menjadi seorang penulis terkenal di Indonesia, setidaknya karya sampeyan itu sepadan dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer, NH Dini atau kalau bisa melebihinya. Sampeyan bisa? Semangat pokokke, pasti bisa! 😉

Namun setelah novel ini diterjemahkan ke berbagai bahasa, Kafka on the Shore laku keras. Amerika, China, Irlandia, dan banyak lagi hingga diterjemahkan ke 40 bahasa (kalau di Indonesia laku ndak ya? Pasti dicekal UU pornografi?  =,=a). Kenapa novel ini laku keras perrmirrsaa?? Wuah, ini yang harusnya jadi pertanyaan. Apa yang menarik ya dari Kafka on the Shore ini? Judul postingan juga ada mbah Froid, eh salah ejaan, Freud ding disana.

Langsung saja ulasan ndak lengkap ini, kenapa novel Kafka on The Shore dianggap menarik. Lha wong saya baru baca pertama kali bingung setengah mampus, tokoh kok ndak berhubungan, jalan ceritanya juga begitu, njelimet.

Cerita singkatnya kayak begini, ada anak namanya Kafka. Aselinya saya ndak tau, dia bohong pas minggat dari rumah (agar ndak ketahuan sebagai seorang pelarian). Kafka benci sama ayahnya, dari kecil dia ingin sekali minggat. Nah, dia akhirnya bisa minggat saat umur 15 tahun. Karena badannya sudah kekar dan besar, Kafka mengaku sebagai anak umur 17 tahun. Saat-saat minggat ini, ada tokoh namanya Gagak, dia selalu memberitahu jalan terbaik bagi Kafka.

Di bab dua, cerita tiba-tiba ndak nyambung blas dari bab satu. Catatan Militer Amerika, bla bla bla… Ada kasus 16 anak SD pingsan bersamaan di hutan saat mencari jamur. Pada akhirnya ini menceritakan Nakata, seorang kakek yang aneh. Dia dianggap sangat bodoh oleh semua orang sejak dia pingsan di hutan itu tadi, dia tidak bisa baca tulis. Sebelumnya dia pinter, tapi jadi bodoh setelah pingsan. Sampai tua  dia tetap bodoh, sehingga mendapat subsidi dari gubernur atau wali kota gitu. Aneh karena bisa berbicara dengan kucing, mampu memanggil guntur, kilat, hujan sarden dan lintah. Aneh ndak menurut sampeyan?

Dalam pelariannya, Kafka bertemu Sakura di bus yang ditumpanginya (yang dianggapnya seperti kakak perempuannya), dan nona Saeki di perpustakaan Komura (dianggap sebagai ibunya). Hal-hal aneh terjadi, tiba-tiba Kafka pingsan dengan tangan berlumuran darah. Ayahnya ditemukan mati (dibunuh Nakata). Terus perilaku Kafka dan nona Saeki yang dianggapnya sebagai ibu sendiri ini bersifat dewasa sekali, alias sering ngariel (ngariel: kosakata baru untuk berhubungan intim dengan orang yang bukan suami/isterinya). Sama si Sakura juga ngariel.

Cerita ini memang ndak nyambung, namun inilah yang disebut labirin, berliku-liku dan absurd. Inti cerita ini mirip dengan Oedipus Complex plus plus, seorang anak yang membunuh ayahnya, lalu meniduri ibunya, plus plus meniduri kakak perempuannya.

Kenapa Kafka ingin membunuh ayahnya? Ya dia dari kecil memang seperti mendapat sebuah kutukan. Kutukan pada Oedipus kan berasal dari penyihir, lalu ayah Oedipus membuangnya dan suatu saat Oedipus kembali dan membunuh ayahnya. Tapi kalo di karya moderen, apa menarik hal seperti itu? Si Murakami ini mengemasnya dalam cerita fresh, moderen, pada kehidupan Jepang pada umumnya. Kafka dikutuk oleh DNA ayahnya, dia benci sekali dengan DNA tersebut. Dia tidak bisa menghilangkan DNA sang ayah, kalaupun bisa dia harus membunuh dirinya sendiri. Satu masalah sudah jelas kan sekarang?

Penjelasan tiga tokoh utama dalam Kafka on the Shore

Gagak sebagai super ego. Super ego adalah alam bawah sadar manusia yang mengendalikan segala nafsu agar tidak keluar begitu saja. Pendek kata sebagai polisi diri, malaikat baik yang selalu memberi wejangan-wejangan pada diri manusia.

Kafka sebagai ego. Yaitu sesuatu yang tampak, sesuatu yang dilakukan, wes pokokke yang sampeyan lakukan saat ini, yang bisa dilihat orang lain namanya ego.

Nakata sebagai id. Id adalah alam bawah sadar manusia yang berupa nafsu-nafsu, keinginan-keinginan yang mungkin tidak sempat terwujud lantaran terhalang oleh super ego tadi. Bisa dibayangkan? Ini kalau saya membayangkan seperti setan yang berbisik pada kita. Sifat yang maunya senang melulu, tidak ada rasa sakit, tidak ada penderitaan. Namun karena adanya nilai-nilai moral dalam masyarakat, sering sekali id ini tertahan oleh super ego. Bagaikan botol soda yang dikocok, menjadi bertekanan tinggi dan menginginkan pelampiasan untuk keluar.

Nah menariknya disini, Murakami membagi-bagi tokoh Kafka on the Shore ini persis dengan teori Sigmund Freud, ada Ego, Super Ego, dan Id. Gagak selalu mengingatkan Kafka, memberi jalan keluar terbaik untuk Kafka. Sedangkan dunia Nakata adalah dunia keinginan Kafka sendiri. Ngariel, membunuh, adalah mimpi Kafka yang diwujudkan oleh Nakata.

Dunia Kafka adalah dunia nyata, jalan cerita tidak ada yang aneh dan mengalir layaknya kehidupan sehari-hari. Namun dunia Nakata merupakan dunia yang sangat aneh, absurd, layak jika itu merupakan dunia mimpinya Kafka. Nakata sebagai penggambaran Id Kafka Tamura. Semua cerita menjadi nyambung dan nyata kan kalau sudah tahu hal ini? Ngobrol dengan kucing, hujan sarden, mana ada di dunia nyata? :p Ada kok, kalau di dunia mimpi. He…

Wes ah, capek juga nulis lumayan panjang… yah semoga ini menjadi sebuah wacana bila sampeyan dipaksa membuat paper tentang novel  Kafka on The Shore dengan teori Sigmund Freud ini. Hee.. ini saya posting juga ceritanya kemaren dipaksa buat baca novel ini, eeh ternyata ceritanya menarik. Eits, yang belum 17 tahun keatas dilarang baca lo! Awas kena razia, hahay… Oh iya lupa, saya dapet sumbernya bukan ngasal… Ini dapat pencerahan dari Syahrur Marta Dwi Susilo, M. A., pakar banget kalo soal kesusastraan Jepang modern. Kalo ada yang salah, mohon ditambahi dan disalahkan, ojok sungkan-sungkan rek… 😉

{ 17 comments… read them below or add one }

Leave a Comment

*

{ 3 trackbacks }

Previous post:

Next post: