Pesan dari Desa

by Sing Mbaurekso Gubug on July 29, 2010

Kemarin saya baru pulang ke kampung halaman, jadi mohon maaf ndak bisa langsung jawab komentar-komentar berharga mas ngganteng dan mbak cantik sekaliyan. Ya maklum lah, di desa saya koneksi internet sangat sulit. Sinyalnya mbah Semar byar pet, ndak nyantol-nyantol. Ya syukurlah hari ini saya bisa nyambangi Gubug lagi dengan sehat wal afiat, sekaligus membalas semua komentar yang ada. ;-)

Hmm… Ada yang menarik kemarin dari desa. Obrolan singkat dengan kangmas saya, namanya mas Endik Eko. Dia bertanya pada saya, “opo enak dadi anggota dewan yo? Ngono kae kerjone opo?” yang artinya kira-kira, “apa enak ya menjadi anggota dewan? Mereka kerjanya gimana ya?”. Nhah, alamat saya orangnya asal njeplak, ceplas-ceplos, ya saya jawab saja, “penak. Lha kerjone tura-turu ae dibayar, mosok ora penak?” artinya “Enak. Kerja cuma tidur mulu saja masa tidak enak?”.

Nhah, masalahnya setelah itu saya berfikir *karena habis nonton berita di tv*, berfikir yang “agak” berat. Apa betul mereka kerjanya hanya tidur lalu dibayar? Hanya duduk, diam dan mendengarkan lalu dibayar? Soalnya selama ini, tepatnya saat saya masih SD dan SMP, saya selalu diajari kalau wakil rakyat itu kerjanya menyalurkan segala aspirasi rakyat. Dari rakyat yang paling kecil sak ndumil, sampai rakyat yang gedenya sebecak (kepalanya), semua aspirasinya disalurkan tanpa pandang bulu. Hmm… Apa kenyataannya sudah begitu?

Ini menjadi permasalahan batin saya selalu. Soalnya ndak ada yang mengedukasi saya cara kerja anggota dewan, ndak ada penyuluhan-penyuluhan resmi yang disiarkan di tipi biar semua warga Endonesa ini tahu… Setahu saya sih, yang menjadi anggota dewan itu kalangan berduit. Mereka memiliki hak voting, nah hak tersebut dipergunakan untuk kepentingan kelompok masing-masing. Entah merugikan rakyat dan mengenyangkan perut sendiri, siapa tahu? Lha setiap orang pengetahuannya berbeda-beda tentang cara kerja anggota dewan…. :(

Bagi orang berpendidikan, mungkin cara kerja anggota dewan sudah bukan lagi masalah. Namun kalo saja sekarang ditanya, mereka pasti berfikir sejenak untuk menjawabnya. Lha kalo orang pinter saja membutuhkan waktu sejenak untuk menjawab secara jelas, bagaimana kalau pertanyaan seperti itu ditanyakan sama orang yang ndak pernah sekolah? Apa mereka tidak punya hak untuk tahu? Apa yang di gedung megah itu menyepelekan hak mereka untuk tahu?

“Lhah, kowe guoblok ae rausah ngerti, iki kanggo wong pinter tok. Ngarit kono lo kowe, ben wedhusmu lemu-lemu.”

Paling kalau saya yang jadi anggota dewan ngomong seperti itu sama orang miskan. Hahahaha… Pengertian dan cara kerja saja masih banyak yang belum tahu, sekarang muncul kenyataan bahwa banyak sekali anggota DPR yang bolos. Kata Pak Yusuf Kalla, itu merupakan hal biasa! Lhoh, hal biasa kok dibiarkam to Pak?? Apa ndak kasihan sama orang-orang kecil yang membayar mereka? Mereka hidup dari uang rakyat juga kan?

“Kalau sidang memang begitu, tapi nanti kalau voting tiba-tiba saja orangnya jadi banyak” (Jusuf Kalla).

Haduh, apa yang diatas itu ndak tahu ya penderitaan orang-orang dibawahnya? Lha rakyat pada bom-boman LPG, masalah Lapindo belum selesai, masalah busung lapar masih ada, ini malah enak-enakan liburan… Wah, kalo liburan, kapan-kapan mampir ya di Gubug Reyot? Tak suguhi air putih mentah saja cukup. Eman-eman kopiku…

Soriii, belum ada artikel sejenis. :p

{ 20 comments… read them below or add one }

aming July 29, 2010 at 2:11 pm

“Lhah, kowe guoblok ae rausah ngerti, iki kanggo wong pinter tok. Ngarit kono lo kowe, ben wedhusmu lemu-lemu.” artinya apa yak?????

Reply

tomi July 31, 2010 at 2:44 pm

saya bantu artikan yang kang aming :
“Lahhh, kamu itu bodoh gak perlu tau,, ini hanya untuk orang pintar saja. Potong rumput aja sana, biar kambingmu menjadi gemuk”
kira2 begitu mas

Reply

Sing Mbaurekso Gubug July 31, 2010 at 5:40 pm

makasih mas Tom translatenya.. ;-) memang sengaja ndak saya translate kok.. ;-)

mas, blognya kok ndak bisa saya akses ya? kampusblog juga… kenapa gerangan?? :(

Reply

Sing Mbaurekso Gubug July 31, 2010 at 5:14 pm

itu mas artinya, sudah dijawab mas Tomi.. ;-)

Reply

kodokz July 29, 2010 at 7:23 pm

yg paling menyedihkan adalah masalah Lapindo yg blm beres sampai sekarang dan entah kapan selesainya….
mungkin mereka tidur pas lagi sidang krn sebelumx kecapean sampe lupa tdr ngurusin masalah rakyat… haha… *pikiran org bodoh yg hanya mau dibodoh2i oleh mereka para wakil rakyat*
that’s the way, i’m golput

ekh…..kalo aku yg singgah disuguhi milo hangat kan??? :oops:

Reply

Sing Mbaurekso Gubug July 31, 2010 at 5:17 pm

Haha… kok sama mbak? Saya juga golput… kalau ditanya kenapa golput, ada sejuta alasan untuk itu. :p
Ehm,… maunya Milo? Waduh waduh, masalahnya susu mahal mbak, tanya tuh pemerintah… :(

Reply

kodokz July 31, 2010 at 6:25 pm

yuhuuu… tosss dulu
klo golput,,, g ada rasa bersalah kalo liat mereka hanya tdr…. ahaaaa… :lol:

aer putih aja, biar sehat :)

Reply

Sing Mbaurekso Gubug August 1, 2010 at 6:12 am

Oke tos!! monggo mbak diminum air putih menyegarkan, langsung dari kendhi. hehehe…

Reply

gardjoew July 29, 2010 at 9:41 pm

ada 3 tipe manusia :
1. orang pinter, ini adalah orang baik dan menggunakan kepinterannya buat kebaikan tentunya,
2. orang bodoh, ini adalah tipe orang selalu jadi sasaran tipe orang yang ke-3
3. orang munafik, ini adalah tipe yang paling berbahaya karena ia adalah orang pinter yang menggunakan kepinterannya baut membodohi orang lain.

pertanyaanya…para bapak “bersafari” yang ada di nyanyiannya iwan fals, adalah tipe orang yang mana???? “tanya knapa, bukan basa-busuk”!!!!

Reply

Sing Mbaurekso Gubug July 31, 2010 at 5:31 pm

nice comment mas.. ;-) wah, kalau ditanya begitu, siapa yang wajib menjawab ya? Kalau ditanya langsung ke “orangnya” pasti mereka menjawab golongan orang ke-1 semua! :(

Reply

the Success Ladder July 30, 2010 at 1:02 pm

Very interesting article, thanks. Keep up the good work.

Reply

Eyangkung July 30, 2010 at 6:05 pm

Kalau menghadapi kondisi hidup berbangsa dan bernegara kita sekarang ini penguasa Gubug Reyot kita ini bersikap pesimistis. Ini sangat masuk akal. Saya saja yang mengalami 3 masa orde lama orde baru dan orde reformasi saja juga terheran-heran.

Ini bukan berita, apa katanya, tetapi melihat dengan mata kepala sendiri. untuk tampil dalam calon caleg saja perlu dikaderkan bertahun-tahun oleh parpol yang mengusungnya. Setelah duduk honor wakil rakyat tidak seberapa dibanding pekerjaannya.

Berbeda dengan ssekarang. untuk menjadi caleg bersaing ketat sehingga ada yang harus memalsu ijazah. Kenapa?? Gara-gara honor anggota DPR kelewat besar. Jadi caleg butuh modal beaya besar setelah duduk harus sibuk cari peluang mengembalikan modal yang telah dikeluarkan dan harus ada keuntungan. Maka kapan lagi mikir aspirasi rakyat?

Masih ada lagi phenomena aneh, artis2 yang bukan dunianya dipaksa-paksa jadi wakil rakyat. Apa hasilnya?? Menurut pendapat saya, SYSTEM nya yang harus dirubah. gaji/honor angggota DPR jangan sebesar itu. Kalau perlu kenakan pajak penghasilan yang tinggi hingga nanti kelompok nya GAYUS biar lebih leluasa berkiprah!! Kasihan ‘kan kalau hanya Gayus saja yang berperut gendut?

Banyak orang mengejar kedudukan kursi wakil rakyat untuk waktu itu untuk gengsi, harga diri dan martabat. Ini lebih baik. Kalau motivasinya begitu artinya mereka mengedepankan nurani. tidak seperti sekarang ada daerah yang seluruh anggota dewan secara bergotong royong melakukan tindak korupsi. Ah, kasihan masyarakat Indonesia yang malang !!!

Reply

Sing Mbaurekso Gubug July 31, 2010 at 5:38 pm

betul eyang, meskipun saya pesimis, namun masih ada sinar kok buat masa depan negara ini. tapi ada syarat-syarat yang susah, mengganti system. lhah, yang bisa mengganti system kan mereka, lha yang bikin undang-undang itu mereka. lha kalau begitu ceritanya, apa mungkin mereka mau mengganti hal yang sudah mapan “menurut mereka”?

balik lagi ke hati nurani masing2 kan eyang? lhah masalahnya lagi, banyak yang berhati nurani mulia tidak memiliki modal untuk jadi wakil rakyat… :( wes, mbulet ae iki eyang… nanti saja kalau salah satu tamu agung Gubug menjadi wakil rakyat, semoga masih ingat tulisan ini. Kalau ndak begitu, suatu saat nanti bila saya jadi, saya punya keinginan untuk merubah semua itu, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat…

Reply

ekopras July 31, 2010 at 8:32 pm

kabeh wong iku ono sing apik lan ora, tiru wae sing apik. yesss!

Reply

Mr, Kem July 31, 2010 at 9:22 pm

hmm..aku setuju karo mas eko ini. seng apik wae seng ditiru, seng elek di guwang ae

Reply

Sing Mbaurekso Gubug August 1, 2010 at 6:13 am

Setuju juga sama mas Pras! ;-) Melu2 ae mas Kem iki! :P

Reply

Mr, Kem August 1, 2010 at 10:01 am

lha sampean tambah melu2…hahaha

Reply

Sing Mbaurekso Gubug August 5, 2010 at 4:11 pm

hihihi, lha apik oe.. :p

Eyangkung August 5, 2010 at 12:14 am

Itu betul!! Idealnya memang yang jelek-jelek ikut yang baik-baik. Artinya dosa-dosa didunia akan menjadi berkurang. Dan orang-orang berdosa siap dipanggil Tuhan. Tetapi kalau sudah begini saya ingat pesan eyang buyut saya:”Kalau nanti prang yang jelek sudah mengikuti yang baik pertanda dunia………. mau kiamat!!

Wah, waahhhh. Serba repot ya hidup didunia. Haiyaaaaaaa.

Reply

Sing Mbaurekso Gubug August 5, 2010 at 4:17 pm

bener itu eyang?? masa malah kalo yang jelek ikutan yang baik itu tandanya mau kiamat??? waduh… ini lagi postmodernism…. pasti banyak yang jelek ngikut baik ini… :(

Reply

Leave a Comment

Page 1 of 11