Megengan, Tradisi Masyarakat Jawa Sebelum Puasa Kini Berubah

Megengan (baca huruf “e” menyerupai huruf “e” di kata burung merak) merupakan sebuah tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan setahun sekali untuk menyambut bulan Ramadhan. Tujuan tradisi ini adalah untuk kirim doa, alias mendoakan arwah nenek moyang yang telah gugur. Bentuknya seperti selamatan, genduren (kenduri), yaitu mengundang tetangga untuk hadir dalam acara megengan di rumah masing-masing dan mempersilakan “orang pintar” untuk memimpin megengan ini (ngajatne).  Jadi setiap tahun, terjadi sedikit keramaian dalam masyarakat Jawa sebelum bulan puasa. Mereka beramai-ramai mengundang tetangga untuk datang ke rumahnya, begitupun sebaliknya, bergantian. Masyarakat Jawa melakukan tradisi ini secara turun temurun sejak Islam masuk ke Jawa. *entah kalau di luar Jawa ya* :p

Nah, ada yang menarik di daerah saya, yaitu di Kabupaten Trenggalek desa Ngadirenggo dukuh Wadilor. Tadi saya kira di langgar (mushola) sebelah rumah saya ada pengajian menyambut bulan Ramadhan seperti biasanya. Oh ternyata, hal tersebut merupakan tradisi megengan yang “dikumpulkan”. Memang kreatif Pak Jani, ustad setengah baya yang selalu terlihat muda ini mengajarkan hal baru tentang tata cara megengan supaya sedikit-demi sedikit tidak terlalu mencampurkan ajaran Islam dengan adat Jawa (Kejawen). Jadi dalam acara megengan yang baru, masyarakat sekitar tidak perlu repot-repot memasak banyak, kemudian mengundang satu per satu kepala keluarga untuk ke rumahnya, lalu meminta tolong “orang pintar” untuk menghajatkan tradisi megengan itu.

Alasan Pak Jani melakukannya ada dua sih,

  1. Ada pihak yang melarang tradisi Jawa dihubungkan dengan Islam.
  2. Agar lebih mudah dilakukan.

Pada poin pertama, katanya ada umat Islam yang tadi Pak Jani menyebutnya dengan golongan Islam Putih. Golongan Islam putih ini melarang keras mencampurkan tradisi Jawa dengan Islam lantaran musyrik, tokohnya mbah Ngampel (Sunan Ampel). Namun dalam batin saya berkata, “lha saya ini orang Jawa, masa semuanya disamakan dengan tradisi Islam Arab? Kalau semuanya manut Arabian, kenapa saya ndak lahir di Arab sono saja??” Eh, belum sempat selesai lamunan saya, beliau sudah berkomentar. “Kalau golongan Islam Jawi, seperti Sunan Kalijogo mengijinkan hal ini dilakukan. Sebab beliau mengajarkan Islam pada tempat-tempat yang amat kental tradisi Jawanya. Maka tradisi Jawa disaring, yang terlalu berbau musyrik dihilangkan dan digabungkan dengan tradisi Islam sehingga masyarakat Jawa yang masih kental tradisinya tadi mau menerima Islam dengan baik.” Dengan kata lain, adat Jawa masih diperbolehkan oleh mbah Sunan Kalijogo. Disini tersirat bahwa Pak Jani ingin menitikberatkan nilai ibadah menurut Islam daripada adat Jawa.

Lalu dilihat dari segi ibadah sendiri, memang megengan seperti tadi sore lebih keren menurut saya. Lhah kok keren bahasanya? Lha emang begitu, kalau megengan seperti tahun-tahun terdahulu, selalu ada jampi-jampi “Jenang sepuh jenang sengkolo, nyengkalani… bla bla… Sekul suci ulam sari, bla… bla…” Yang itu tidak ada di Al-Qur’an. Sebenarnya bagi pembelajar bahasa Jawa, jampi-jampi tersebut boleh jugak untuk dijadikan bahan peneltian. Namun disini kan tujuannya untuk mengirim doa kepada yang telah ada di alam kubur. Jadi yang dibutuhkan adalah Al-Fatihah dan doa-doa lainnya. 😉

Pada poin kedua, yaitu agar megengan lebih mudah dilakukan. Jelas sekali cara megengan lama lebih ribet. Lebih membutuhkan waktu dan tenaga. Kalau megengan tadi sore kan mudah, tinggal mengumpulkan nasi Lodho, jajanan khas megengan seperti apem, kue-kue, dll, dikumpulkan menjadi satu di Mushola, kemudian berdoa, wiridan, pokoknya pengajian lengkap dari ba’da Maghrib hingga langsung diteruskan sholat Isya’. Nah, setelah sholat Isya’, makanan nikmat dengan lauk utama Lodho (ayam panggang khas) ini dibagikan kepada jama’ah secara adil. Tadi terkumpul banyak sekali sego Lodho ini, sampai perut saya buncit. Hee…

Begitulah, tradisi Jawa megengan yang sebelumnya mendoakan arwah secara kejawen, lama kelamaan terkikis dengan cara Islami setelah Islam masuk ke Jawa. Apakah ini baik? Tergantung dari sudut mana sampeyan melihatnya. 😉

Author: Sing Mbaurekso Gubug

Seorang blogger. Suka makan tiwul kalau di Trenggalek. Jarang makan, semoga suatu saat mendapat jodoh seseorang yang suka memperhatikan dan pinter masak... Amiin... Hmm.. tuit tuitan yuk, saling follow!! >> @subebeck

28 thoughts on “Megengan, Tradisi Masyarakat Jawa Sebelum Puasa Kini Berubah”

  1. di tempat saya juga ada, kalau di tempat saya namanya ruwahan, hampir sama hanya saja ga ada jampi-jampi…

    sebenarnya tradisi yang ada di jawa yang ada unsur islamnya bagus, tai ada unsur jampi-jampinya yang membuat musyrik..seperti nanti ada tradisi lebaran ketupat yang buang-buang makanan, dll

    1. buang-buang makanan bagaimana mas Hakim? kalau di tempat saya memang setiap rumah memasak banyak sekali. Namun selalu habis oleh tamu-tamu. Baik tamu yang dikenal maupun tidak dikenal. namun menurut saya itu bagus looo, kan niatnya membagi rejeki yang didapatkan dalam bentuk makanan lezat. manfaanya mempererat tali silaturahmi dan tentusaja buat yang baru bertamu ke rumah tersebut akan mendapatkan “saudara baru”. 😀

  2. Ooo, Penguasa Gubug Reyot (PGR) mudik lagi ke Trenggalek pada hal mudik terakhir baru 2 minggu terakhir itu untuk MEGENGAN to? Itu bagus. Secara umum megengan adalah KIRIM DOA. Yang disebut doa adalah komunikasi dengan Tuhan. Jadi kalau ada ” jampi-jampi” itu bernuansa non agamis. Artinya doa dalam acara megengan ini sesuai dengan agama masing-masing. Didaerah saya megengan di adakan per RT dengan biaya urunan warga RT (per KK)

    Kemarin sore malah ada saudara-2 kami komunitas Katolik dari satu dukuh juga mengadakan acara megengan atau ruwahan ini. Malah mereka mengadakannya di makam/kuburan sore hari dipimpin oleh seorang tokoh warga Katolik. Tentu saja tata caranya sesuai kebiasaan orang Katolik, doa Katolik dan ada lagu-lagunya, yaitu lagu-lagu rohani atau nyanyian liturgis kebiasaan saudara-2 Katolik /Kristen bila mengadakan kebaktian agamis. Dalam istilah Katolik acara semacam megengan ini disebut “inkulturasi” dan dibenarkan oleh Gereja!

    Saya sendiri berpendapat acara macam ini baik dari masyarakat Islami dan Kristiani adalah benar adanya sepanjang penyelenggaraannya tidak menyimpang dari ajaran pokok agama masing-masing. Juga kalau kumpul-kumpul kenduren pakai berkat/makanan itu adalah ciri budaya Jawa yang sosialis dan rela atau siap berbagi. Ingatkan ada pepatah Jawa. “Kumpul ora kumpul mangan” Tapi kok ya ada yang dibalik “Mangan ora mangan kumpul” ?!

    Tentang megengan atau ruwahan ini saya pernah berbincang-bincang dengan tetangga satu RT. Beliau dosen IAIN S3 dalam bidang Hukum Islam. Sikapnya juga sama dengan saya.

    Posting hal-hal semacam ini PGR di Gubug reyot ini sesuatu yang relevan dan menarik. Maka baguslah kalau teman-teman komunitas Gubug Reyot ini untuk memberikan komentarnya dan ada juga komentar yang dikomentari hingga topik yang dibahas menjadi semakin menarik . Tentu saja bukan untuk berdebat, tetapi untuk sharing!

    1. iya eyang, ini memang untuk sharing dan tentu saja saya sendiri ingin tahu tentang tradisi ini di luar daerah saya. ternyata keadaannya hampir sama, kemarin teman saya yang rumahnya Surabaya juga berkata kalau masih ada tradisi megengan. dia memasak sendiri (karena ditinggal orang tuanya ke Nganjuk).

      ehm, saya seneng Eyang juga mau banyak cerita disini. Hehe… saya baru tahu kalau di agama Kristen/Katolik juga ada tradisi ini. Saya kira tradisi semacam ini hanya ada dalam Islam Jowo, ternyata ada juga toh Kristen Jowo. 😀 Soal megengan iuran per KK itu menarik Eyang, karena tidak usah ribet-ribet masak sendiri juga. heran juga sih, kenapa harus ribet2 begitu (seperti tradisi yang dulu), kalau bisa dikerjakan bersama-sama.

  3. Asslm,,,,

    Kunjungan Balik nih Sob,
    Thanks ya udah Berkunjung ke Rumahku…hehehe
    Rumahnya (Blognya…red) tambah oke aja,
    Gak bosen deh saya sempatkan untuk Datang ke Sini lagi..!!

    Sob saya punya Blog baru nih,
    Sempatkan untuk berkunjung ya, ini Rumah Baruku…
    http://bajumuslimmuslimah.blogspot.com
    http://pakaianbajupengantin.blogspot.com
    http://caraloginfacebook.blogspot.com

    Salam Blogger, Sukses Menjalin Silaturahmi….

    Wassalm,,,,

    1. sama-sama mas/mbak Baju. Haha… sampai saya lupa menulis komentar apa di rumah sampeyan. waaahh, buanyak banget blognya ini? *tetapi blogspot semua* =.=a

      ayo mas/mbak baju bener-bener diniati jualannya, memakai domain dot com gitu. (saya bersedia kok mendesainkan *promosi*) he he…

  4. jujur saya bukan muslim mas hehe.. jadi kurang paham mengenai puasa.. saya mengucapkan selamat menuaikan ibadah puasa saja bagi yang berpuasa…
    sekalian baca2 buat nambah pengetahuan

  5. Sekedar urun pengetahuan….
    Dalam Islam sendiri ada yang memperbolehkan dan ada yang tidak memperbolehkan pelaksanaan sebuah tradisi yang biasa dilaksanakan masyarakat. Hal ini terjadi karena perbedaan sunnah yang digunakan.
    Segala sesuatu tergantung niat. Begitu jg dg tradisi Megengan/Penampan/sejenisnya. Jika dimaksudkan untuk berbagi dg. sesama dlm. menyambut bulan puasa dan sebagai ungkapan suka cita karena telah dipertemukan kembali dg. bulan Romadlon dan tidak menjadikannya sebagai hal yang harus dilakukan, ya tidak mengapa dilaksanakan. Tetapi jika tradisi itu sebagai sesuatu yang harus bin wajib dilakukan dan apabila tidak dilakukan maka merasa akan datang suatu bala, nah hal tersebut yang tidak diperbolehkan menurut Islam (sebagai agama yang merayakan puasa Romadlon) karena dalam Islam tidak ada perintah untuk itu. Bukan berarti Islam Jowo harus mengikuti Islam Arab atau sejenisnya. Islam adalah agama dari langit (agama samawi), bukan agama dari kebudayaan Arab. Jika dianalogikan sebuah agama adalah sebuah kereta. Bukankah untuk sampai ke tujuan, kereta harus mengikuti rel yang sudah ditentukan? Bukankah kita harus mengikuti ajaran dari agama yang sudah kita pilih?….

    1. betul mbak Rini! semua itu tergantung dengan niat masing2… semoga saja niat yang melakukannya tidak untuk tolak balak. niatnya sebagai pelampiasan kata “berbagi” pada sesama… :)

      ya ini tugas kita untuk meluruskan masyarakat yang belum tahu akan “niat” ini mbak ya?

  6. Begitulah, tradisi Jawa megengan yang sebelumnya mendoakan arwah secara kejawen, lama kelamaan terkikis dengan cara Islami setelah Islam masuk ke Jawa. Apakah ini baik? Tergantung dari sudut mana sampeyan melihatnya.

  7. wah.. bagus mas postinganya,, klo d tempat saya daerah tamanan barat RSUD trenggalek, acara megengan sekarang ini kurang rame karena yg d undang cm jamaah yasin gk kyak dulu semua warga yg mau ikut boleh masuk masjid,, trs d kasih pengumuman dulu lwt speaker masjid 1 hari sblum acara..

  8. setuju sekali…memang kita orang jawa ya adat jawane harus dilihatkan….karena islam sendiri tidak harus arab….termasuk lagu2 kalo bisa tidak kosidah , terbangan/ apa itu….kita gunakan musik jawa /karawitan…yg sairnya dibuat/digubah pujian yg bernuansa islami….jadi tidak harus arab. karena kadang para ustad/pemuka agama kurang srek bila pujian diiringi dengan karawitan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*