Megengan, Tradisi Masyarakat Jawa Sebelum Puasa Kini Berubah

by Sing Mbaurekso Gubug on August 5, 2010

Megengan (baca huruf “e” menyerupai huruf “e” di kata burung merak) merupakan sebuah tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan setahun sekali untuk menyambut bulan Ramadhan. Tujuan tradisi ini adalah untuk kirim doa, alias mendoakan arwah nenek moyang yang telah gugur. Bentuknya seperti selamatan, genduren (kenduri), yaitu mengundang tetangga untuk hadir dalam acara megengan di rumah masing-masing dan mempersilakan “orang pintar” untuk memimpin megengan ini (ngajatne).  Jadi setiap tahun, terjadi sedikit keramaian dalam masyarakat Jawa sebelum bulan puasa. Mereka beramai-ramai mengundang tetangga untuk datang ke rumahnya, begitupun sebaliknya, bergantian. Masyarakat Jawa melakukan tradisi ini secara turun temurun sejak Islam masuk ke Jawa. *entah kalau di luar Jawa ya* :p

Nah, ada yang menarik di daerah saya, yaitu di Kabupaten Trenggalek desa Ngadirenggo dukuh Wadilor. Tadi saya kira di langgar (mushola) sebelah rumah saya ada pengajian menyambut bulan Ramadhan seperti biasanya. Oh ternyata, hal tersebut merupakan tradisi megengan yang “dikumpulkan”. Memang kreatif Pak Jani, ustad setengah baya yang selalu terlihat muda ini mengajarkan hal baru tentang tata cara megengan supaya sedikit-demi sedikit tidak terlalu mencampurkan ajaran Islam dengan adat Jawa (Kejawen). Jadi dalam acara megengan yang baru, masyarakat sekitar tidak perlu repot-repot memasak banyak, kemudian mengundang satu per satu kepala keluarga untuk ke rumahnya, lalu meminta tolong “orang pintar” untuk menghajatkan tradisi megengan itu.

Alasan Pak Jani melakukannya ada dua sih,

  1. Ada pihak yang melarang tradisi Jawa dihubungkan dengan Islam.
  2. Agar lebih mudah dilakukan.

Pada poin pertama, katanya ada umat Islam yang tadi Pak Jani menyebutnya dengan golongan Islam Putih. Golongan Islam putih ini melarang keras mencampurkan tradisi Jawa dengan Islam lantaran musyrik, tokohnya mbah Ngampel (Sunan Ampel). Namun dalam batin saya berkata, “lha saya ini orang Jawa, masa semuanya disamakan dengan tradisi Islam Arab? Kalau semuanya manut Arabian, kenapa saya ndak lahir di Arab sono saja??” Eh, belum sempat selesai lamunan saya, beliau sudah berkomentar. “Kalau golongan Islam Jawi, seperti Sunan Kalijogo mengijinkan hal ini dilakukan. Sebab beliau mengajarkan Islam pada tempat-tempat yang amat kental tradisi Jawanya. Maka tradisi Jawa disaring, yang terlalu berbau musyrik dihilangkan dan digabungkan dengan tradisi Islam sehingga masyarakat Jawa yang masih kental tradisinya tadi mau menerima Islam dengan baik.” Dengan kata lain, adat Jawa masih diperbolehkan oleh mbah Sunan Kalijogo. Disini tersirat bahwa Pak Jani ingin menitikberatkan nilai ibadah menurut Islam daripada adat Jawa.

Lalu dilihat dari segi ibadah sendiri, memang megengan seperti tadi sore lebih keren menurut saya. Lhah kok keren bahasanya? Lha emang begitu, kalau megengan seperti tahun-tahun terdahulu, selalu ada jampi-jampi “Jenang sepuh jenang sengkolo, nyengkalani… bla bla… Sekul suci ulam sari, bla… bla…” Yang itu tidak ada di Al-Qur’an. Sebenarnya bagi pembelajar bahasa Jawa, jampi-jampi tersebut boleh jugak untuk dijadikan bahan peneltian. Namun disini kan tujuannya untuk mengirim doa kepada yang telah ada di alam kubur. Jadi yang dibutuhkan adalah Al-Fatihah dan doa-doa lainnya. 😉

Pada poin kedua, yaitu agar megengan lebih mudah dilakukan. Jelas sekali cara megengan lama lebih ribet. Lebih membutuhkan waktu dan tenaga. Kalau megengan tadi sore kan mudah, tinggal mengumpulkan nasi Lodho, jajanan khas megengan seperti apem, kue-kue, dll, dikumpulkan menjadi satu di Mushola, kemudian berdoa, wiridan, pokoknya pengajian lengkap dari ba’da Maghrib hingga langsung diteruskan sholat Isya’. Nah, setelah sholat Isya’, makanan nikmat dengan lauk utama Lodho (ayam panggang khas) ini dibagikan kepada jama’ah secara adil. Tadi terkumpul banyak sekali sego Lodho ini, sampai perut saya buncit. Hee…

Begitulah, tradisi Jawa megengan yang sebelumnya mendoakan arwah secara kejawen, lama kelamaan terkikis dengan cara Islami setelah Islam masuk ke Jawa. Apakah ini baik? Tergantung dari sudut mana sampeyan melihatnya. 😉

{ 28 comments… read them below or add one }

Leave a Comment

*

Previous post:

Next post: