Puisi untuk Pahlawan: PUSARA PAHLAWAN

Puisi untuk pahlawan ini khusus untuk menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-65. Puisi pahlawan dengan judul “Pusara Pahlawan” ini ditulis oleh seseorang dengan nama Kakanda, terimakasih buat Kakanda telah bersusah payah mengirimkan puisi pahlawan untuk Gubug Reyot. Saya harap dengan dituliskannya puisi ini bisa menambah khasanah sastra Indonesia juga. πŸ˜‰

PUSARAΒ  PAHLAWAN

(buah karya: Kakanda)

Tubuh-tubuh kaku terbujur sunyi

terpancang tonggak bisu tak bernama

tanah merah tanpa bertabur bunga

tapi rela pahlawan terbaring di pusara.

Ketika kejam peperangan merobek damai sepi

kau angkat senjata tanpa dipinta

melawan penindasan dan penjajahan

demi bumi pertiwi.

Ketika tangan tangan masih mampu mencekam mencengkeram

jantung berdetak hati berderak

kau pekikkan satu tekad:

MERDEKA.

Kau biarkan di sekujur tubuhmu

luka nganga bertaut sendiri

kau korbankan milikmu, hidupmu

gugur satu-satu.

Sebelum sempat kukalungkan bunga di lehermu

aku sematkan bintang jasa di dadamu

kau berlalu tanpa meminta balas jasa.

Pahlawanku,

ijinkan aku seka darah di luka tubuhmu

aku hapus debu di telanjang kakimu

sebagai rasa hormat dan terima kasihku.

Pahlawanku,

di atas pusaramu

kutaburkan wangi bunga-bunga

dan kuteteskan haru air mata.

Kendal, Agustus β€˜76

Gubug Reyot tahu meskipun masih banyak penderitaan rakyat Indonesia setelah “merdeka” selama 65 tahun ini, namun marilah kita tetap optimis bahwa Indonesia ke depan bisa lebih maju dan bisa dipegang oleh pemerintahan yang memihak kepada rakyat, bukan pada perut masing-masing. Kalau para pemuda mau bertindak dan bertekad bulat seperti pahlawan yang lebih dahulu gugur, Insya Allah negara ini akan maju dan merdeka dalam arti yang sebenarnya.

Author: Sing Mbaurekso Gubug

Seorang blogger. Suka makan tiwul kalau di Trenggalek. Jarang makan, semoga suatu saat mendapat jodoh seseorang yang suka memperhatikan dan pinter masak... Amiin... Hmm.. tuit tuitan yuk, saling follow!! >> @subebeck

46 thoughts on “Puisi untuk Pahlawan: PUSARA PAHLAWAN”

  1. Benar!!

    Apabila para kawula muda, generasi muda penerus bangsa ini sejak pagi berjanji: Kalau aku nanti sudah memiliki kekuasaan dan jabatan tidak akan seperti si Gayus dan temen2nya. Juga aku tak menggunakan kekuasaanku dan kekuatanku untuk menekan masyarakat yang seharusnya dilindungi!! Pasti tak lama lagi rakyat Indonesia tenang sejahtera…… MERDEKA!!
    Puisi Pusara Pahlawan di atas kok tidak jelas batas-batas bait2nya. Apa memang sengaja dibikin satu bait saja, ya? Yang bermakna: mari bersatu untuk menuju kemajuan, keamanan dan kesejahteraan Bangsa??
    Puisi ini cocoknya dibawakan oleh jenis wanita. Namun ada yang berpendapat, dideklamasikan laki-lakipun cocok juga. Karena laki-lakipun pantas meneteskan air matanya karena ungkapan terima kasih, rasa hormat dan haru kepada pahlawannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *