Berkurang Lagi Umurku

by Sing Mbaurekso Gubug on March 18, 2011

Sampai hari ini, ternyata sudah lama juga aku hidup. Meski terbilang muda, masih kepala 2, tapi aku rasa lumayan lama juga. Yang heran, sudah 5 tahun kuliah kok ndak lulus-lulus. Ha ha.. Bukan lulus sih yang aku cari, tapi nilai. Nilai-nilai kehidupan, suatu jalan agar bisa hidup dan berguna bagi orang lain. Meskipun sekarang belum tercapai, namun aku selalu berusaha. Meski banyak yang mencibir, namun aku akan selalu tabah menerimanya…

Umur manusia tidak akan bertambah, semua sudah tahu itu. Tapi nilai dari kehidupan manusia bisa bertambah seiring bertambah umurnya, entah nilai baik atau buruk. Sebenarnya tidak ada niat untuk mencegah diri sendiri atau orang lain untuk berbuat buruk. Namun itu yang telah tertanam dalam diri ini dari dulu, mencegah yang buruk terjadi dan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik, berbuat baik untuk orang lain, dan malas merugikan orang lain.

Ah… Jadi ngawur dan ndak jelas tulisan blog ini. Maklum, habis makan nasi goreng porsi sangat super duper paling jumbo sekali top banget. Jadi mata serasa ngantuk (*idem kata-kata miring diatas).

Sedikit cerita masa lalu, jalan hidupku yang tak terasa sudah berkepala 2 ini. Aku lahir di sebuah desa terpencil, Ngadirenggo di Kab. Trenggalek. Di sana aku mengenyam pendidikan hingga SMA. SD selalu juara kelas, kalau ndak 2 ya 1. Ya mungkin atas bantuan seorang ibu yang setia mengajariku pelajaran-pelajaran yang diajarkan di SD saat itu. Aku ingat, aku adalah manusia terkecil saat itu. Mungkin karena kecil dan imut, jadi para guru dan teman-teman menyukaiku. Ha ha..

Setelah SMP, tubuhku tetap yang terkecil. Untung ndak dipanggil kerdil. Di SMP 1 Trenggalek, aku masuk kelas D, kelas dimana manusia-manusia (*idem garis miring diatas) pintar dan bandel berkumpul. Saat itu aku tidak bisa lagi juara 1, namun selalu masuk 10 besar dan setiap caturwulan (dan di kelas 2 berubah jadi sistem semester) selalu naik peringkat. He he… Masih ingat saat guru Biologi SMP itu berteriak, “D, ayo siapa yang bisa jawab?” atau dia berteriak, “D, kalian ini anak-anak pandai, tapi jangan bikin onar seperti ini!”. Wah… Aku kira itu wajar, kreatifitas anak muda. Ha ha…

Di SMA, aku masuk SMA 1 Trenggalek. Yah, fighto sama anak-anak pandai lagi di kelas B dan 3IPA2. Tapi saat itu aku tak lagi yang terkecil, anak-anak cewek terasa mengecil semua. Padahal saat SMP mereka terasa ‘sangat dewasa’ dengan dua benda yang wow di dadanya. Ha ha ha… Di SMA itu kehidupan masih wajar, peringkat sama persis saat di SMP. Persahabatan, percintaan, kompetisi… Hmm.., mungkin kehidupan masa SMA terlalu indah buat diungkapkan dan tak bisa aku tulis disini.

Saat lulus SMA, disini pilihan yang paling menentukan (kupikir saat itu). Aku bingung, sama seperti anak-anak lainnya yang bingung, “mau kuliah kemana aku setelah lulus SMA nanti?“. Tak ada pilihan yang mantap saat itu, akhirnya aku “ikut-ikut teman”. Yang pada akhirnya tak bisa lulus tepat waktu saat kuliah saat ini.

Pilihan pertama SPMB-ku (sebutan SNMPTN jaman bahula) saat itu adalah Farmasi Unair, kedua Sastra Jepang Unair, dan ketiga Bahasa Inggris UM. Sebelum SPMB, aku sakit tifus dan hanya bisa membaca soal-soal ringan. Tak bisa menghitung, karena terasa sangat lemas dan pusing saat berfikir overload sedikit saja. Akhirnya saya pasrah saja dan ngasal milih jurusan kuliah.

Yah, mungkin itu sudah ‘takdir’, sesuatu yang sebenarnya aku sangat benci untuk mengatakannya.. Akhirnya aku masuk ke pilihan kedua yaitu jurusan Sastra Jepang Unair. Tak tahu apa yang mendorongku buat memilihnya. Saat itu jurusan Sastra Jepang Unair adalah jurusan yang baru. Aku yang sedang sakit dan tidak pernah belajar hanya bisa berfikir soal peluang, peluang bisa masuk kuliah lewat SPMB dan satu-satunya yang masuk akal adalah masuk jurusan yang baru dibentuk, sedikit saingan. Yah memang terdengar sedikit g4mbl1ng…

Masuk Sastra Jepang Unair, awalnya terlihat sempurna! Dosen-dosen (yang biasa disebut ‘Sensei-tachi’) sangat baik dan selalu membantu saat aku mengalami kesulitan dalam perkuliahan. Aku rasa peluang untuk pekerjaan juga sangat besar, karena Jepang merupakan negara investor terbesar di Indonesia. Satu tahun dua tahun memang terasa enak, namun aku tak sadar kalau kuliah itu hanya 4 tahun! Mungkin para dosen juga tak sadar tentang hal itu. Jurusan tersebut terlihat boroknya, borok yang menurutku sangat berdampak besar padaku.

Mereka tidak merancang kurikulum secara sempurna dan mempersiapkan tenaga pengajar yang cukup. Sehingga setiap aku kuliah dan sadar akan hal itu, mereka juga sadar dan menyempurnakannya. Memang sangat baik perkembangannya, namun terlambat bagi angkatan pertama, angkatan 2006. Angkatanku yang pertama, mungkin adalah angkatan terburuk. Aku lihat adik-adik kelasku sudah mampu menguasai bahasa Jepang dengan baik, lebih sempurna. Padahal mereka baru dua tahun kuliah. Dan aku juga tak tahu, kemana menghilangnya dosen-dosen yang dulu selalu mendukungku?

Jujur aku ingin membanggakan kedua orang tuaku, bisa lulus kuliah dan menyandang titel sarjana. Tapi banyak kondisi yang tak mendukungku. Yang kubisa hanya membuka internet, mencari sumber pendapatan baru, terkadang menyimpannya untuk mencari makan di masa depan, kadang aku menyebarkannya secara gratis karena aku tahu banyak juga orang yang mengalami hal yang sama denganku. Mengalami kekecewaan, mempercayakan sesuatu kepada seseorang namun ternyata begini akhirnya. Aku sekarang lebih suka berusaha sendiri. Aku yakin para dosen juga sibuk dengan urusan masing-masing. Aku tahu, mereka tidak bermaksud melakukan hal yang menyakitkan bagiku. Aku tahu, mereka melakukan hal yang terbaik, untuk jurusan itu. Aku doakan mereka selalu bahagia di jalan mereka, aku tak mau lagi merepotkan mereka, meski dilema selalu menghantuiku. Aku ingin (*idem tulisan miring diatas) lulus dan membahagiakan orang tua, namun di sisi lain, kondisi tidak mendukungku untuk lulus kuliah.

Yang bisa aku tulis saat ini hanyalah sebuah puisi, semoga puisi ini bisa membahagiakanku saat aku bertambah tua dan berkurang lagi umurku…

Senang, tertawa, sedih, kecewa
Semuanya hampir memenuhi perutku
Namun aku berani menelannya
Walau tanpa pemikiran dan tanpa rencana

Bukan aku tak memiliki pengetahuan tentang arti hidup
Bukan aku tak mencari tahu, bukan pula aku bosan
Namun aku hanya ingin melihat ke depan, jauh sekali
Meski umurku selalu berkurang, aku selalu semangat
Meski kemampuanku pun terbatas, aku akan semangat

Terakhir, aku ingin berterimakasih kepada-Nya
Tahu dan tidak tahu telah diberitahukan-Nya padaku
Terimakasih, Tuhan
Kau memberiku kesempatan untuk hidup hingga saat ini
Semoga Kau beri mereka yang menderita di luar sana
Tetes air mata kebahagiaan di hari esok
Amin

jaman kuliah

Teman-teman kuliah. Buat para kohai, ganbatte ne!

{ 16 comments… read them below or add one }

Leave a Comment

*

Previous post:

Next post: