Ini kisah buat loe yang suka Facebook
ini kisah tentang loe yang ketagihan poker
ini kisah tentang korban Hacker
ini kisah Kita yang muda di ujung jaman
Not My Account
I prolog
Di ujung musim kemarau, malam telah larut.
Pemuda itu sepertinya baru saja tiba dari medan perang. Dia berjalan menyusuri sepanjang jalan di kegelapan malam menuju tempat tanpa kehidupan,pandangan matanya menatap ujung jalan, terlihat berupa titik yang sangat kecil yang sepertinya tidak memiliki batas, begitu pula pada ujung yang satunya. dia berada di tengah- tengah dan dia tahu kemana tujuannya seperti jalan hidupnya yang berjalan dan singgah dari satu tempat ke tempat lain sebelum menuju pada suatu akhir. Seorang laki-laki berdiri di tengah panggung dunia tanpa harapan, tanpa masa depan. Andika.. namanya Andika..
Hinga, langkah nya terhenti di suatu tempat. Tempat itu bukan satu-satunya gedung yang masih memiliki lampu yang bernyala di tengah malam. Pintunya tidak terlalu besar. Satu-satunya lampu yang tergantung pada gedung tersebut seperti bintang, begitu kecil dilangit. Langit bersatu dengan kuningnya pasir, sementara pasir yang kuning bersatu dengan langit. Cahaya lampu temaram serasa kelam di selimuti kepulan asap rokok bias seperti halnya angin musim gugur meniup debu ke langit. begitu kelam hingga tak di ketahui lagi dari mana asal cahaya. apakah itu kunang-kunang, mungkin
Entah apa yang di cari oleh nya dari tempat seperti ini baginya hidup tidak harus seperti manusia, kadang binatang pun bisa lebih bermakna bagi kehidupan, Jadi apa yang harus kita khawatirkan?. di sini pun dia dapat menjadi manusia
Jadi, itu sudah lebih dari cukup.
Beragam orang mendatangi tempat ini, semua orang dari berbagai kelas dan jenis. dan bagi seseorang seperti dia amat sangat menyukai mendatangi tempat ini. Karena dia tidak diterima di tempat lain. Tempat tersebut juga merupakan tempat yang aneh. Saat itu telah dipenghujung musim kemarau, namun temaram lampu dan keremangan susana di tempat ini membuat saat itu seperti mendung di musim hujan.
Tempat itu bukan toko minuman, namun banyak terdapat minuman.
Tempat itu bukan tempat untuk berjudi, namun banyak orang berjudi.
Terdapat beberapa pintu dan terdapat beberapa bilik yang mengelilingi ruangan utama.
Tidak perduli bilik manapun yang kamu masuki , semua sama, kamu tidak akan menyesal, dan kamu tidak akan kecewa.
Di belakang terdapat sebuah pintu Namun, sedikit orang yang pernah mengetahui apa yang terdapat di belakang pintu itu, hanya sedikit yang pernah ke sana
Karena, ………….. memang tidak perlu kesana.
Semua hal yang kamu butuhkan terdapat di ruang depan
di sebelah pintu masuk, terdapat meja kecil. Dibelakang meja tersebut duduk seorang pemuda . dia duduk sendiri disana sambil memandang layar monitor. Jarang sekali orang-orang melihat dia melakukan hal yang lain. Dan jarang sekali orang-orang melihat dia berdiri. Kursi tempat dia duduk merupakan kursi yang nampak nyaman dan besar.
“ baru dateng? ” tanya pemuda itu
” ya.. gua ketiduran ” jawab andika sekenanya, matanya sibuk melihat-lihat sekeliling ruangan, kemudian balik bertanya ” ada yang kosong ?”
“nomer empat ma delapan tu” jawab nya sambil memandang andika, namun hanya beberapa saat pandangan nya beralih kembali pada layar monitor, entah magnet apa yang sebegitu besar dari benda tipis berwarna hitam itu hingga membuat pemuda berabut ikal itu seakan berat untuk meninggalkannya , walau hanya untuk beberapa saat.
setelah meninggalkan senyum tipis untuk pemuda penunggu meja itu,andika melangkah membawa sepasang kakinya menelusri lantai keramik putih. langkah yang begitu berat seakan semua beban dunia dipanggul oleh pundaknya. helaan napas dan tatapan kosongnya pun tak sanggup memeprlihatkan seberapa berat bebannya, hanya senyum sisnis yang kadang keluar dari bibirnya saja yang bisa mengurangi beban itu.
Bilik no 8 sebuah ruang kecil, seperangkat komputer, meja kecil, bantal duduk. begitu sempit bahkan untuk menghirup udara pun sesak, tapi tidak untuk andika di bilik kecil inilah dia hidup,dibilik kecil inilah dia menemukan dirinya, begitu kecil dunia rasanya bila dia sudah berada di bilik ini apapun yang dia ingin tahu, apapun yang dia ingin dengar, apapun yang ingin dia lihat, itu semua bisa dengan cepat dan mudah dia dapat, Dari bilik kecil ini, dari layar tipis berwarna hitam. inilah dunianya inilah hidupnya.
Tangan itu mulai menekan tuts-tuts pada keyboard, terlihat begitu terampil. bukan waktu sebentar untuk menguasai keterampilan seperti itu. berhari-hari, berminggu-mingu, mungkin bertahun-tahun dia duduk di atas bantal itu hingga seterampil sekarang dan entah berapa lama lagi dia akan tetap berada di situ.
Malam makin larut, sang waktu terus bergulir.. merambat terus melewati setiap tahap- tahap kehidupan, satu- persatu penghuni dunia ini pergi ke alam mimpi meninggalkan kepenatan hari-harinya. bagi mereka terang adalah kehidupan sedang kegelapan malam adalah penantian..penantian untuk esok yang lebih terang. tapi tidak bagi Andika kegelapan malam adalah hidup, dimana dia leluasa melihat dan menertawakan orang-orang yang terlelap, berteriak dalam mimpi-mimpi mereka bahwa dalam gelap ada kehidupan
Dan jarinya terus menyanyikan lagu
Lagu yang sama dari ketukan keyboard
Lagu hidupnya, dan diapun makin tenggelam dalam dunia maya dengan teriakan- teriakan nya dengan imajinasinya, sanggupkah dia kembali. saat di dunia itu memberi nya kemenangan.
II update status
Siang hari
Terik matahari begitu panas menampar permukaan bumi. hawa panas di penghujung musim kemarau seakan ingin membakar seluruh isi planet ini. andai pohon-pohon tinggi dan besar masih ada dipinggir-pinggir jalan orang-orang pasti akan mudah berteduh menjadikan akar besarnya sebagi tempat duduk atau hanya bersandar di kokohnya batang pohon. gedung-gedung tinggi dan tiang-tiang besi besi telah mengusir pohon-pohon itu dari identitasnya sebagai penghuni kota, gedung dan tiang-tiang itu yang telah mengambil peran mereka sebagai tempat berteduh.
Panas itu juga yang dirasakan oleh dua orang makhluk manis yang berjalan dia atas trotoar. dua orang gadis dengan kecantikan bagai dewi dari kahyangan. langkah mereka tidak pernah terlepas dari tatapan mata para pejalan lainnya. senyum nakal dan tatapan penuh kekaguman dari mereka yang melihat kedua gadis ini seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari langkah keduanya, kemanapun, dimanapun.
Gadis pertama berambut sebahu, berwajah baby face bentuk wajahnya oval, matanya besar dengan bulu mata lentik di bawah sepasang alis bagai lembayung, hidung nya cukup mancung, bibirnya indah seperti buah delima ditambah lesung pipi di kedua pipi yang kemerahanyang menambah keindahan jika dia tersenyum. wajah nya begitu polos bagai bayi tak berdosa. Sebuah t-shirt putih denan gambarbunga di belakangnya membuat wajah putih nya semakin bercahaya. Celana nya jeans biru polos tanpa aksesoris lain. Semua dandanan sederhanya nya tidak bias menyembunyikan kecantikan gadis bernama Tirani Dwitasari itu. Entah kenapa orang tuanya member nama tirani, mungkin dia ingin anak gadis nya menjadi pejuang untuk meruntuhkan tirani, atau dia yang akan jadi tirani untuk orang disekitarnya, entahlah.
Gadis satunya lagi bernama shinta mirip dengan istri Sri Rama dalam epic kolosal Ramayana, tak salah jika orang tuanya memberi nama itu. Shinta memiliki raut wajah campuran , rambutnya panjang mengkilap sekilas orang akan menyangka dia adalah bintang film dari india kulitnya putih bersih dan badannya yang tinggi berisi membuat setiap lelaki hidung belang rela melakukan apasaja asal bisa mendapatkan tubuh seksinya. Dibalut t-shirt hitam dan jeans biru yang sma-sama ketat semakin memperlihatkan setiap lekuk keindahan tubuh nya.
Langkah kaki kedua gadis cabtik ini terhenti di depan sebuah bangunan kecil berwarna putih dengan pintu kaca berwarna hitam yang penuh dengann gambar animasi yang memanjakan mata. Pada atap depan terpampang sebuah spanduk besar berwarna biru dengan dengan sebuah kata besar “ WARNET” dan tulisan-tulisan lainnya di dalamnya. Di pelataran bagian depan tampak beberapa buah sepeda motor yang ter-parkir sekenanya. Dan didepan pintu tampak banyak terlihat beberapa pasang sandal dan sepatu.
“masuk yu” Tirani membuka mulutnya yang sejak tadi tertutup.
Tanpa menjawab dan dengan sebuah senyum manis shinta menganggukan kepala. Kedua kakinya dengan sigap mengikuti langkah kaki tirani.
Setelah membuka sepatu mereka berduapun masuk
***
Tempat yang sama, bilik no 8
Perlahan matanya terbuka, suara bising telah membangunkan Andika dari tidurnya. Tanganya meraba-raba diatas meja mengambil sebuah handphone. Perlahan di tempelkan hendphone itu kekeningnya, masih dengan mata yang tersa berat untuk di buka, perlahan dia picingkan matanya.
“ gila jam 1 siang” guman nya lirih. Dengan malas di bangun dari tidurnya dan duduk di atsa bantal besar yang baru saja menjadi alas dari kepalanya.” Bisa-bisanya ketiduran disini..puh mana ada janji lagi”.
Setelah berdiri matanya melirik kebilik di sebelahnya, tampak seorang pemuda bertubuh tinggi dengan rambut acak-acakan sedang tidur juga sama seperti dirinya barusan.
“Wooy, bangun. Dah siang nih” teriknya,teriakan yang cukup keras hingaga membuat beberapa kepala tampak melongok keluar dari bilik-bilik warnet ini, tak terkecuali dua wajah cantik milik tira dan shinta yang memang sedang berada disini.
“Dika?” tirani tampak heran dengan teriakan itu, terlebih setelah melihat tampang pemuda itu yang Nampak kucel” lu..tidur disini?”
Mendengan sebuah pertanyan mau-tak mau kepala andika menoleh ke asal sumber sura dan ketika dia tahu siapa yang baru saja bertanya pada dirinya. Seulas senyum tengil yang sangat buruk keluar dari wajahnya. Dan dengan cepat tubuh nya masuk kebilik sebelah menarik tangan pemuda jangkung yang baru saja di bangunkannya.
“gue bareng dia” katanya tetap sembil cengengesan sambil menepuk-nepuk pemuda jangkung yang masih berdiri limbung sambil memegangi kepalanya karena pusing akibat di bangunkan dengan mendadak.
“ bayu, malu-maluin kamu tidur disini” begitu lirih suaranya hingga hampir tidak terdengar oleh andika dan bayu.
Belum hilang terkejut melihat tingkah andhika kini shinta lebih terkejut lagi melihat sesosok pemuda yang di bangunkan andhika. Saking kagetnya dengan mata melotot dia pegangi dada dengan tangan kanan nya.
Pemuda jangkung yang ternyata bernama bayu bukan main kagetnya mendengar suara lirih dari gadis peranakan india itu. Dengan memaksakan diri dia picingkan mata nya yang maih ngantuk’ shinta” hanya kata itu yang keluar sebelum tubuh jangkungnya nyelosor jongkok kebawah.
“ lagi banyak kerjaan ma tugas ,beib” masih dengan posisi jongkok, mata tertutup dan tangan menggaruk rambut bayu berkata.” Pesenin yayang kopi dong”.
“Gila, pacar lu ini memang gila shin” tira geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
Puh! Shinta hanya mendengus lalu dia melangkahkan kakinya kearah meja penunggu warnet, yang bukan lagi seorang pemuda tapi seorang gadis dengan wajah asli Indonesia. gadis ini adalah pegawai yang kebagian menjaga warnet disiang hari.setelah dekat dengan gaya yang enggan shinta berkata” Pesen kopi item satu”.
Tidak seperti pemuda penunggu meja yang begitu sulit untuk meninggalkan krsinya, gadis ini cepat bangkit untuk membuat pesanan dari shinta.
Shinta cepat berbalik menuju ke bilik asalnya , tampak bayu sudah berada di dalamnyadengan posisi jongkok memeluk dengkul yang beradu dengan kepala, wajah nya sama sekali tidak terlihat, entah bangun, entah tidur. sedang tira dan andika masih dalam posisiyang sama sebelum dia memesan kopi.
“ gw cabut dulu” kata andika mengeluarkan suara, sambil melangkah ketika tepat di depan tira sejenak dia berhenti, tanganya tiba-tiba mengucek rambut tira” cakep banget tuan putri hari ini”
“Gila lu, rambut gw acak-acakan, tau” sambil berteriak kecil tangan tira berusaha menepis jari-jari nakal andika dari rambut hitamnya.
“ hehehehehehehe” Cuma itu yang keluar dari mulut andhika, dia kemudian meneruskan langkahnya keluar dari bangunan tersebut. Diiringi tatapan dari gadis penjaga warnet yang dilaluinya.
Sinar matahari yang panas dengan sekejap menelan tubuh andika, masih dengan senyum nakalnya dan mata tertutup dia rentangkan kedua tangan seperti seorang panglima yang baru pulang memenangkan pertempuran. Seperti juara yang memenangkan pertandingan
Pertempuran apa?
Pertandingan apa?
Baginya seorang pecundang pun boleh merayakan kemenangan, karena kepuasaan bukan hanya milik sang pemenang, bukan hanya milik para juara. Kepuasan untuk kalah dan mengalah pada kehidupan pun layak untuk dirayakan. Apa jadinya jika dunia hanya berisi para pemenang, untuk siapa mereka merayakan kemenangan. Entahlah , apa yang dia lakukan itu hanya untuk membuat dirinya senang, hanya itu.
****
Tira masih berkutat di depan layar monitor jari-jari manisnya sibuk menyusun setiap hurup untuk menjadi kalimat seperti yang ada di pikirannya.
“ hari ini Cuma 30 orang yang koment, shin “ katanya pada shinta.
“Ya udah, bikin lagi dong status yang lebih menarik” potong sinta dari bilik sebelah sambil bermainkan jari diatas keyboard sama dengan apayang dilakukan tira, sementara itu kepalanya bersandar pada bayu yang masih mengantuk walaupun kopi panas sudah ada di depan hidungnya.
“ Bingung neh update status apa ya , biar banyak di komentain ?” kata tira lagi
“Apa aja ek asal jangan porno, ntar kena undang-undang pornografi lagi, bisa-bisa kamu di tangkep..hihihihihii” jawab sinta sekenanya. Tapi tira malah tersenyum kemudian tertawa dan akhirnya kedua gadis itupun tertawa keras.
Suara tertawa itu memancing bayu untuk memebuka mata, dia pun tersenyum sambil geleng-geleng kepala.senyum itu walau tipis sudah cukup baginya untuk merasa bahagia bersama sang kekasih. Ketidak beruntungan nya di malam tadi, kekecewaannya, marahnya, pupus sudah melihat tawa sang tercinta, begitu lepas dan dalam hatinya dia pun tertawa lebih keras dari mereka..jauh lebih keras, tak perduli karena hanya dia yang bisa mendengarnya.
“Gembira amat neeh tuan putri”.akhirnya bayu buka mulut
“ eh, udah sadar ya pangeran ku” kata sinta tak manja.
“ Pangeran kodok” tira tiba-tiba menyela sambil cekikikan
“ yee, sirik kamu ya?, aku dan sinta memang mirip sama pangeran Charles dan putri Diana, ya kan beib?” Bayu menanggapi gurauan tira sembari tersenyum sambil mengerak-gerakan kedua alisnya.“ atau rani mukerjhee dengan shah ruk khan”
“ hihiiihiiiiii, gak saah tuh” tira makin geli mendengar ocehan bayu yang makin slebor” eh tapi bagus tuh buat di bikin status” lanjutnya.
“status apa tir?”
“bentar dulu aku tulis “ kata tira. Kemudian tangan nya bergerak lincah mengetikan kalimat” GW KETEMU PANGERAN WILIAM DAN PUTRI CATHERINE DI WARNET ” di akun jejaring sosial facebook miliknya.
“coba kamu baca status aku sin” lanjut tira.
Maka setelah sepasang kekasih itu membaca, meledaklah tawa mereka bertiga, tawa yang membuat seisi warnet itu menjadi riuh. Berapa konsumen yang berada di balik tiap-tiap bilik dibuat geleng-geleng kepala mendengar kerasnya tawa mereka, selanjutnya beberapa orang tampak memasang perangkat headset yang disediakan ke telinga nya, sedang sebagian lagi orang itu melanjutkan kembali aktifitas ber-internet ria.
“ gak salah kalau kamu di sebut ratu facebook tira, ide kamu untuk status selalu brilian” kata sinta memuji.” ya kan beib?” sambungnya sembari mengerling pada bayu.
“yoi emang gitu banget ratu kita, tiada hari tanpa status “ bayu menambahkan
Sementara itu gadis yang dipuji tampak senyum-senyum sendiri ,entah perasaan apa yang ada dalam hatinya. Senang, bangga dan sedikit ge-er bercampur menjadi satu.
Apakah selalu seperti itu?,
setiap kata yang di tulis bergitu bermakna?,
apakah setiap komentar selalu menjadi acuan seberapa berarti kita di lingkungan itu?
Lingkungan apa?
Bagi tira, sinta, bayu dan ribuan bahkan mungkin jutaan orang hal itu memang begitu bermakna, begitu penting. Sepenting perut mereka disi makanan , sepenting tenggorokan mereka dialiri segelas air. Tanpa hal itu mereka mati, mereka tidak berarti, mereka memang membutuhkan hal itu. Untuk apa aku ada jika orang lain tak tahu bahwa aku ada, itulah yang mereka pikir.
“ Eh lihat si erwin ng-chat ni” tira berseru
“ apa an katanya?’ tanya sinta
“ biasa nanyain kabar ku”
“ cari perhatian dia, pengen jadian lagi kali sama kamu tir”
“ ga mungkin lah orang dia udah punya pacar, si selly anak ekonomi” jawab tira.
“ bener juga tuh” kita sinta mengiyakan.
“ tuh, kita juga harus gitu kalo udah putus beib” tiba-tiba bayu menimpali.
“apa-an sih, kok ngomong putus segala ,emangnya kamu pengen putus ya?” sinta sewot, sambil melototi wajah bayu. Kemudia dengan muka cemberut dia berkata ” emangnya ada cewe yang lebih perhatian ama kamu orang jelek kamu kamu?, enggak deh”.
Bayu tertawa tergelak sedang tangannya mengusap rambut sinta.” Ga mungkinlah beib kamu itu cewek paling sempurna yang pernah sang pangeran temui di seluruh entaro kerajaan” saetelah mengatakan itu kembali bayu tertawa tergelak-gelak. Sinta pun mengerling dan menyurutkan wajah cemberutnya hingga senyum manis pun mucul menghiasi cantik wajahnya.
Dan mereka pun kembali asyik berinternet ria. Sambil sesekali terdengar tira mengomentari apa yang terjadi di dalam facebook nya. Decak kaget, kagum, senyum, sesekali mengiringi setiap momen yang terjadi. Sedang jarum jam yang tergantung di dinding putih di tembok bagian atas warnet itu terus terus berputar seiring dengan berapa harga yang harus di keluarkan oleh para pengguna. Hanya dua orang anak kecil yang sedang bermain game perang online matanya sesekali melirik kearah jam itu.
Entah apa yang di korbankan kedua anak itu untuk dapat memainkan karakter prajurit di game online tersebut. Mungkin sehari ini meraka tidak jajan atau membohongi ibu dan bapak mereka dengan tugas sekolah yang harus di kerjakan oleh komputer. Hanya mereka yang tahu. Yang penting adalah si prajurit harus membunuh musuh sebanyak mungkin supaya cepat di promosi ke pangkat yang lebih tinggi, supaya makin banyak senjata perang yang dimiliki.
Membunuh laparnya, keinginan jajan nya daripada prajuritnya tidak membunuh
Apakah ia akan naik kelas?, mungkin tak perduli, asal prajuritnya naik pangkat
Raport sekolah nya penuh angka merah tak perduli, asal si prajurit bisa berbaret merah
Baret merah lambang tertinggi di permainan ini. Setiap pemain meinginginkan prajuritnya untuk bisa mendapatkan baret merah itu. Entah berapa lama waktu yang harus mereka luangkan dan berapa banyak uang yang harus keluar dari saku mereka untuk mencapai itu. Mereka tak perduli karena prajurit itu adalah dirinya sendiri, yang siap membunuh untuk apapun dan dimanapun.
Beda lagi dengan seorang pemuda di bilik paling depan kepala nya geleng-geleng membaca status dan komentar di akun milik pacarnya, dia seolah tidak percaya begitu banyak pria yang di kenal oleh pacarnya itu, karena setahu dia pacarnya tidak pernah bergaul dengan pria lain dan tidak pernah membicarakan teman-teman prianya. Sang pacar baginya adalah gadis baik dan lugu yang tidak tersentuh laki-laki lain selain dirinya. Bodoh!!
Di bilik lain seorang laki-laki dewasa yang keliatan sudah berumah tangga sedang tersenyum-senyum. Tangan nya tidak cukup terampil mengetik kata-kata untuk membalas chatingan dari seorang perempuan cantik yang di kenalnya melalui facebook. Di tempat inilah dia bebas dari belenggu perkawinannya. Berkenalan dengan wanita-wanita cantik entah itu gadis atau sudah janda, yang penting foto dalam facebook nya cantik dan seksi. Kecantikan dan keseksian yang sudah tidak lagi di dapat dari istrinya perkawinan yang sudah berlangsung tahunan dan dua orang anak telah mengilangkan hal itu dari sang istri tercinta. Setiap obrolan chatingnya dengan perempuan cantik dan seksi selalu diiringi harapan untuk bisa bertemu langsung. dengan sadar bahwa ini adalah iseng, tapi tidak menolak jika suatu waktu keisengan ini menjadi lebih serius. Dia makin khusyuk membalas setiap chatingan, di iringi senyum nakal dia balas lontaran kalimat mesum dan jorok mereka.
Bilik no 2, pemuda bermata merah dan kucel rela tidak tidur dari malam tadi, matanya tampak sesekali tertutup, rasa kantuk telah mendatanginya sejak beberapa jam tadi. Tangannya tidak menempel di keyboard, tangan kanannya tampak menggenggam sebuah mouse. Sedang pada tangan kirinya terselip sebatang rokok filter yang yang puntungnya sudah panjang, Sesekali tampak jemari tangan kannnyanya mengetuk–ngetuk alas mouse tanpa memijit satu tombol pun dari benda kecil itu, pertanda hatinya sedang gelisah. Puntung-rokok tampak telah menggunung di asbak bulat, botol-botol minuman dan beberapa bungkus permen tampak berserakan di bilik kecil itu.
Matanya tak lepas dari layar monitor mengamati setiap kartu-kartu yang keluar. Permainan poker, desahan nafasnya hampir tak terdengar masih kalah oleh detak jantung yang berdebar saat pikiran dan hatinya berharap pada kebaikan sang bandar. Dia kalah, tapi ini adalah permainan judi dimana kalah dan menang datang silih berganti. Andai dia berhenti pagi tadi saat kemenangan menghampirinya, tak perlu dia menghabiskan waktu sampai sesiang ini untuk menahan kantuk yang semakin kuat mendera. nafsu dan keserakahan manusia memang sulit untuk dikendalikan. Sekali seorang manusia beruntung semakin sulit dia berhenti, nafsu dan keserakahan pun makin besar. Itulah kodrat dan takdir.
Tapi judi tetap lah judi dimana kalah dan menang ibarat roda yang terus berputar, dan dia kini berada pada satu tepian roda, tepian kekakalahan. Roda itu bulat sebulat meja poker, sebulat chip-chip yang di pertaruhkan, harapan untuk cepat-cepat berada di satu tepi kemenangan lah yang membuatnya tetap bertahan. Dan dia pun hanya menarik nafas dalam-dalam melihat chip-chip yang di pertaruhkan nya beralih tangan menjadi milik sang lawan. Kartu berganti Dan Roda pun terus berputar.
*******
Sore hari
Rumah yang cukup besar dikelilingi benteng dan pagar yang tidak tinggi kurang lebih satu meter, berderet sekitar delapan pintu yang menghadap utara, Tempat ini adalah sebuah kost-kost an. Pekarangan nya cukup luas cukup untuk parkir beberapa buah kendaraan. Setiap kamar di batasi oleh sebuah tembok kecil pada lantai.
Kamar itu begitu nyaman, disebelah pintu sebuah ada meja kecil dari kayu yang diatasnya terdapat televisi berwarna 20”. sebuah kasur tebal lengkap dengan bantal dan selimutnya yang tampak begitu rapi tepat berada di depan televisi yang menyala. sebuah lemari hias dengan cermin tempat menyimpan berbagai macam perabot turut memadati kamar . di dalam ruangan itu terdapat juga sebuah kamar mandi yang tidak begitu besar.
Diatas kasur tampak tira sedang memainkan heandphone mungil yang dibalut sebuah karet berwarna putih.posisi tubuh gadis itu tengkurap dengan kedua kaki yang mengacung keudara sedang kedua tangannya tira begitu lincah memainkan keypad handphone yang berbentuk qwerty, sesekali sebuah senyum kecil keluar dari bibir mungil gadis berusia 18 tahun itu.
Pintu kamar tampak di buka , sesosok perempuan manis berusia 20 tahunnan kemudian menyusul masuk kulitanya sawo matang dengan bentuk tubuh agak kurus tidak tinggi dan tidak juga pendek. Rambut nya sebahu di ikat oleh sebuah plastik penjepit hingga memperlihatkan lehernya yang begitu panjang untuk ukuran gadis seusianya.
“ tumben engga ke warnet, tira?” tanya gadis itu
“ eh nani, ngagetin aja” seru tira setengah kaget,” engga ah, tadi pulang dari kuliah aku mampir dulu ke warnet di sebelah kampus bareng sinta” sambungnya
“ oh, pantes kalo gitu ratu facebook kita jam segini engga ngantor warnet” canda gadis yang bernama nani, sembari menghempaskan bokongnya keatas kasur tebal dan empuk, kemudia tangan nya menggapai remote televisi yang teronggok di atas kasur.” Sampe jam berapa browsing di sana?”.
“ sampe jam 2 an lah, eh tau ga tadi kau nemuin andhika sama bayu ketiduran di warnet?’ kata tira dengan bersemangat sembari membetulkan posisinya menjadi duduk bersebelahan dengan nani.
“ wah, emang pada gila tu anak, dua-duanya udah pada kecanduan maen poker” kata nani menimpali” sekarang banyak banget orang yang tergila-gila mengejar chip poker”.
“ iya, padahal andhika tu orang nya keren banget, sayang sekarang jadi kucel gara-gara kebanyakan begadang maen poker” tira tampak menerawang membayang kan sosok andhika yang dia kenal membadingkan penampilan pemuda itu dulu dengan sekarang.“ pas aku kenal dia pertama kali, orang nya keren banget dandanan nya rapi, emang agak cool waktu kenalan, ampir aku naksir dia, padahal waktu itu aku lagi hubungan ama erwin..eh pas aku lagi ng jombloko dia berubah”
“ sekarang lo masih naksir ama dia?” tanya nani
Tira yang ditanya sesaat gelagapan, tapi dengan cepat dia tertawa cekikikan untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
“ Ya engga lah.. sekarang kan kita udah akrab, perasaan nya cuma kaya temen biasa” kilah tira tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.
“ emang suka gitu, aku juga kalo ngeliat cowo keren suka naksir, tapi kalo udah jadi temen perasaan itu suka hilang begitu aja” nani ikut memenarkan ucapan tira.
“ eh nani, tau ga hari ini si erwin chatingan sama aku” seru tira tiba-tiba mengalihkan arah pembicaraan.
“ masa sih?”
“ suer, sekarang aja aku lagi balas komentar-komentar dia nih liat” jawab tira sembari mengasongkan heandphone qwerty nya pada nani.
Untuk sesaat nani membaca tulisan tulisan kecil yang nampak pada layar heandphone milik tira. Setelah selesai seulas senyum tampak dari bibirnya dengan mengerling kan mata kepa tira dia berkata” duh pantes nih lupa sama andhika, tau nya ada yang mau come back ya”
Tira kembali tertawa tergelak ” engga lah dia khan udah punya pacar, aku Cuma heran aja waktu kita hubungan gak pernah dia seperhatian itu”
“ puuh..” nani mengeluh. “ cowok emang makhluk yang aneh, entah kapan aku bisa menyelami pemikiran mereka”
“ gak akan, sebab setiap cowok juga berbeda untuk memahami pemikiran mereka semua kita harus harus deket sama mereka, keburu tua non” kata tira. “ kecuali kita dapatkan satu cowok yang akan menemani kita sampai mati cowok yang mau mengerti kita” sambungnya lagi.
“ kalo menurut aku sih cowok itu sama kaya kita gak pernah bisa mengerti perempuan, kalaupun itu terjadi berati mereka ada maunya” tukas nani.” Kata ibu ku laki-laki jumlahnya lebih sedikit dari perempuan, mereka lah yang memilih ,bukan kita”
Giliran tira yang melongo mendengar perkataan nani, untuk beberapa saat dia terdiam. kalimat yang baru dia dengar seumur hidupnya. Kalimat yang mengusik keistimewaannya. Pilihan ada pada laki-laki wanita tak berhak memilih, sedemikian tidak berartinya perempuan jika memang seperti itu, bukan kah perempuan dan laki-laki memiliki hati yang sama, daging dan tulang yang sama, hanya bentuk saja yang berbeda.
“ Kenapa kok gitu?” akhirnya keluar juga pertanyaan dari mulut tira. Hal itu sudah mengganggu pikirannya, dia sangat ingin tahu lebih banyak.
Sementara itu nanai memejamkan mata , pikirannya dipusatkan untuk mengingat apa saja yang pernah dikatakan ibunya tentang laki-laki, kemudian” Jadi gini manis, laki-laki selalu membuat pilihan dengan akalnya sedang kita kaum perempuan selalu membuat pilihan dengan hatinya”
“Maksudnya gimana, jadi tambah bingung nih ?”
“ dengan kata lain kita seringkali membuat pilihan atas dasar suka dan tidak suka, berbeda dengan laki-laki , mereka selalu bisa membuat pilihan berdasarkan baik dan buruk serta benar atau salah, itulah yang menyebabkan laki-laki selalu menjadi peminpin dalam hubungan pria dan wanita”
“ Maksud kamu hubungan pernikahan gitu?”
“ ya, ibuku mengatak sudah kodratnya laki-laki menjadi peminpin”
“ jadi , kalau terjadi perceraian, itu adalah kesalahan laki-laki?” sebuah pertanyaan kembali meluncul dari bibir tira.
Kini giliran nani termenung. Pertanyaan itu begitu sulit baginya. Kamus di kepala tidak menyimpan data untuk pertanyaan seperti itu. Akhirnya
” kalau itu aku ga tau soalnya orang tua ku tidak bercerai” jawabnya sambil tersenyum
Tira pun ikut tersenyum. Hari ini bertambah pengetahuan nya tentang hidup. Hidup yang masih teramat panjang untuk dijalani.
Matahari terus bergerak ke ufuk barat. Perlahan-laha bersembunyi di balik cakrawala, lelah melintasi dunia dari satu ujung keujung lainnya. Meninggalkan kesibukan manusia dan kehidupannya yang tak pernah mati, biarpun sang matahari telah bersembunyi
****
Status aneh
Dengan langkah santai tira menyusuri pelataran kampus tempatnya menimba ilmu.wajah nya begitu segar berseri-seri. Wajah cantiknya terus mengumbar senyum. Menurutnya Pagi ini begitu indah sangat sayang untuk diisi dengan hal-hal buruk. Pagi yang indah harus di songsong dengan indahnya senyuman, hari yang baru harus dibarengi dengan pakaian dan jiwa yang baru. Langkah kecilnya terus membawanya masuk ke gedung kampus.
Dengan lincah dia menaiki tangga yang menghubungkan tiap tingkat didalam bangunan itu, masih dengan senyum dia sapa setiap orang yang berpapasan dengannya. Tanpa memperdulikan apakah dia mengenal orang itu atau tidak ,bagi tira siapapun yanfg ada disini berarti temannya karena sejak masuk perguruan tinggi ini bahkan kecilpun dia tidak pernah mampunyai musuh. Perbawaannya yang riang dan selalu mau mendengar perkataan orang membuatnya mudah bergaul dan banyak disukai.
Tapi pagi ini
Mulai tingkat 2 Beberapa pasang mata memandang dengan tatapan yang aneh, orang-orang itu adalah orang yang mengenalnya baik disini maupun di dunia maya. Beberapa memendangnya dengan senyum dikulum, beberapa lagi memandang dengan wajah keheranan. Tira menyadari itu
Langkah nya mulai kendurkan. sambil berjalan dia pandangi orang-orang yang melihat dengan tatapan aneh padanya, Masih dengan senyum. Entah berapa orang yang orang telah dia temui memandang dengan tatapan yang aneh. Hingga di depan kelas mungkin sekitar tiga puluh orang yang bersikap seperti itu.
Dan di dalam kelas!
Saat dia masuk semua mata memandang dengan tatapan yang sama, ada apa ini!
Setelah menyimpan kantong di kursinya, tira putar pandanganya ke seluruh penjuru kelas menatap satu persatu teman-temanya. Karena tidak didapat jawaban dari pandanganya,tira mendengus sambil mengangkat bahu. Kemudian di hempaskan tubuhnya di atas kursi, matanya menatap papan tulis. Tatapannya kosong, se kosong papan tulis hitam di hadapannya.
Setelah beberapa lama sinta muncul dari lawang pintu
“halo semua!” katanya kepada seisi kelas
Bukan jawaban yang didapat oleh sinta melainkan sebuah tarikan tangan seorang teman perempuan yang menyeret bajunya.
“ Apaan sih?” sinta berseru memperlihatkan kekagetannya.
Teman perempuan sinta yang menariknya itu bernama tuti. Entah apa yang kemudian di bisikan tuti ke telinga sinta, karena sesaat setelah itu sinta keliatan mengernyitkan keningnya.
“coba aja liat kalo ga percaya” kata tuti
Sinta kemudian mengeluarkan handphone nya yang berbentuk qwerty. Setelah beberapa saat matanya tampak melongo.” Gila, udah gila dia”
Dengan langkah terburu dia menghampiri kursi dimana tira sedang menatap kosong ke arah papan tulis.
“ hey, pagi –pagi udah ngelamun kaya kesambet aja” katanya sambil menepuk bahu tira
“ hmm” dengus tira, dia sudah mengetahui kedatangan sinta
Kemudian dengan memalingkan mukanya kearah sinta, tira bertanya” ada apa bisik-bisik sama si tuti?”
Untuk sejenak sinta tampak termenung mulutnya mengeluarkan desahan nafas yang berat. Kemudia di menyeret sebuah kursi hingga menempel dengan kursi yang diduduki oleh tira.
“ kamu udah buka facebook kamu?’ tanya sinta dengan suara pelan setengah berbisik, seakan takut didengar oleh orang lain.
“ belum, emangnya kenapa” jawab tira sambil balik bertanya kepada sinta.
“ aku ga mau ngomong. Kamu buka aja facebook kamu” kilah sinta.
Karena penasaran tira cepat-cepat mengeluarkan handphone nya. Lalu jari-jarinya mulai menekan keypad untuk membuka aplikasi facebooknya. Setelah beberapa lama wajah tira mulai menunjukan keheranan.
Sinta mulai menangkap gelagat mencurigakan dia yang memperhatikan tira sejak awal begitu melihat wajah tira yang penuh keheranan mulai menduga ada sesuatau yang tidak beres sedang terjadi pada tira.
“ gimana tira?”
“ aneh” kata tira penuh keheranan.
“apanya yang aneh”
“ facebook nya ga mau kebuka”
“koq bisa gitu?”
“ password nya udah ganti ” kata tira lirih.” Padahal tadi kemarin sore masih kebuka, gimana nih”
“ pantes” giliran sinta yang berkata” aku udah curiga pasti bukan kamu yang bikin”
“ curiga apa?, emang ada apa?” pekik tira
Sinta tidak menjawab, hanya tangan yang menyodorkan handphone miliknya kepada tira” baca aja status kamu di sini” katanya
Tira buru-buru mengambil handphone itu dari tangan sinta. Matanya menyipit memperhatikan setiap setiap kata demi kata dari status nya, status yang bisa dilihat karena pertemannya dengan sinta di jejaring sosial facebook. Status yang bisa dilihat oleh semua orang yang berteman dengannya. Bukan hanya sinta. Status yang membuat darah nya naik ke ubun-ubun. Status yang begitu melecehkan kewanitaannya
Pandangan matanya mendadak pudar.dalam pandangannya papan tulis berwarna hitam itu perlahan–lahan berubah menjadi biru, sebiru warna facebook. Makin lama biru itu makin padat. Wajah teman-teman nya muncul mereka tertawa sambil menunjukkan jari-jari tangannya ke arah tira, makin lama wajah –wajah itu makin banyak memenuhi pandangan biru, berdesakan. semakin lama makin penuh, semakin dekat, wajah-wajah itu seakan hendak menelannya.
“ tidak” tanpa sadar tira memekik keras
Satu persatu wajah-wajah itu menghilang . semakin sedikit, tinggal empat, tiga, dua, satu hingga tak tersisa satu wajahpun dan warna biru memudar, perlahan berganti dengan warna hitam. Papantulis itu tetap hitam seperti asalnya.
Teman-teman tira dalam kelas itu hanya terdiam. Tapi mereka tahu kenapa tira yang selama ini meraka kenal periang itu berteriak keras. Meraka hanya tak ingin membuat tira makin bingung maka sebaiknya meraka diam, bukankah diam itu emas.
Sinta mengambil handphone di tangan tira lalu meletakan benda itu di atas alas tulis kursinya. Gerakan nya sangat perlahan takut membuat tira kaget, karena dia tahu tira begitu terpukul atas apa yang terjadi dengan facebooknya.
“ kalau ga salah setahu ku yang bikinin kamu facebook itu andhika orangnya?” kata sinta membuka percakapan.
Tira mengangguk
“ aku telpon andhika ya?’ sinta menyodorkan sebuah tawaran.
“ aku gak yakin dia yang lakuin ini sin” tira menggeleng lemah.
“ maksud ku bukan nuduh dia tir, kita minta ketemuan aja, mungkin dia bisa ngasih pemecahan dan jalan keluarnya”
“oh maaf aku udah salah nangkep maksud kamu sin” kata tira, bibirnya tetap memperlihatkan senyum, tapi kali ini senyumnya sangat kaku ” kalo gitu terserah kamu aja”
Dengan cepat sinta segera menelpon andhika” lagi dimana sekarang?… oh bisa ga ketemu nanti? …. di warnet biasa…… ya jam satu siang.. ok makasih ganteng” setelah itu sinta pun menutup telponnya.” Ok tira kita ketemuan sama andhika jam satu siang ditempat kemaren”.
Tira mengangguk, tanpa diberitahu diapun tahu, apa yang dibicarakan di telepon barusan cukup jelas baginya.” Bayu ikut? ”
Sinta tidak menjawab, hanya senyum tipis yang keluar dari gadis cantik itu
****
“ jdi kamu gak nuduh aku kan?” kata andika ketika mereka berempat sudah berkumpul di warnet sebelah kampus.
“ pada kasus ini semua bisa menjadi tersangka, kecuali tira” tukas sinta
“ sudah-sudah, aku gak perduli siapa orang jail yang punya kerjaan iseng” tira menengahi sebelum kecurigaan antara mereka muncul.” Yang penting bagi aku , facebook ku bisa kebuka dan di pakai lagi dengan normal, just that!”
“hanya itu?” sinta tampak mengernyitkan keningnya
“ ya, Cuma itu”
“ kalau menurut aku sih mending kamu bikin akun baru lagi aja deh” andika coba memberikan saran” biasanya akun yang udah pernah di hack, kalo di pake ga aman”.
“ tapi teman ku udah banyak, saying kan kalo bikin baru harus nyari lagi pertemanan” kali ini tira mengutarakan alasanya dan setengah merengek dia memohon.” bisa kan dibetulin, please”
“Ok deh kita coba” andhika pun berjalan menuju sebuah bilik di warnet itu. Sedang tira menyususul di beakangnya, meninggalkan sinta dan bayu yang Cuma bisa menggelengkan kepala melihat keputusan tira.
“ ok jadi caranya gini” kata bayu setelah mereka berada di depan computer.” Kalau akun facebook kita gak bisa dibuka, seperti salah atau lupa password .. kita bisa msuk keelayanan email kita, kamu masih ingat password emailnya?’.
“ kalo ga saah sih sama kaya password facebook” jawab tira sambil mengingat-ingat.
“ ok kita mulai, emailny apa?”
“ tiracantik@yahoo.com” kembali tira menjab pertanyaan andika.” Paswordnya 060692” kata tira menambahkan.
“ pasti angka itu tanggal lahir kamu ya”
Kali ini tira hanya mengangguk mataya tak lepas mengawasi layar monitor. memperhatikan setiap tahap yang dilakukan. Sesaat kemudian matanya tampak berbinar.
“ nah emailnya sudah terbuka” seru andika
“ kalau begini facebook nya udah bisa kebuka juga?” Tanya tira penuh penasaran
“ kalau sudah begini mudah, tinggal kita kembali ke situs facebook dan menekan tautan forget password atau lupa kata sandi, kemudian isikan alamat email kita. Nah nanti kita diminta mengisikan sebuah kode ” andika menjelaskan.”setelah itu kita buka emailnya, kita tinggal cari email masuk dari facebook.”
“ Seperti itu ya? ” tangan tira menunjuk pada sebuah tanda email baru yang tampak pada layar monitor
“ yup betul banget, itu adalah email dari facebook yang berisi kode yang harus kita isikan di halaman tadi” andika tampak tidak kesulitan dengan proses yang menurut tira bulak-balik dan rumit” nah beres kan”
“ Yes, akhirnya kebuka juga facebook ku’ seru tira kegirangan saat halaman masuk itu berganti menjadi beranda facebooknya. Matanya berbinar melihat tanda merah yang merupakan tanda sesuatu yang masuk ke akun miliknya. tanda dari pesan atau komentar yang masuk.
“ tolong di klik dong” pinta tira pada andhika. Tira telah melihat status itu di heandphone sinta tadi, namun komentar dan pesan lebih banyak lagi sekarang ini.
Dan andhika pun menurut telunjuk kanannya yang menempel pada salah satu tombol mouse di tekannya, dan !!
Tira chuakep
“ malem ini dingin bangeeet !!… cowo-cowo kesini dunk.. gua sangeee”
17 mei 2010
21 orang menyukai status anda
Ryan voks
Pengen apa say..?
6 jam yang lalu melalui facebook selular
Tinaanakz mama alinz
Ih tira koq bahasanya gtu cieeh..
6 jam yang lalu melalui blackberry
Viet yanxs guaanthenxs
Ok beib aku dateng, bayar ga..?
6 jam yang lalu melalui facebook
Doni asooy
Betul..betul…. Mau..mau..mau
6 jam yang lalu melalui facebook
Arjuna ngalalana mencaricinta …………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………………….
Untuk beberapa saat keheningan tercipta apa yang terlihat di layar monitor telah menarik seluruh perhatian tirani dan andika. Kata demi kata, baris demi baris mereka, komentar demi komentar mereka baca. Tiada lagi kernyitan kening dan pelototan mata dari tirani dalam menyimak semua itu. Senyum tipis dari tirani dan tawa dari andhika yang kadang-kadang muncul ketika ada komentar yang mereka anggap lucu.
Sinta dan bayu yang ternyata memperhatikan dengan menongolkan kepala mereka dari bilik sebelah pun tersenyum, melihat wajah tirani yang begitu ceria, tiada lagi kesedihan dan wajah murung dari gadis cantik itu. Gadis itu memang lugu kala sedih dia murung dan kala senang dia tertawa.
Dan mereka berempat pun menghabiskan waktu siangnya di warnet itu, sama dengan kemarin dan hari-hari sebelumnya, mungkin hari esok pun masih sama. Entah berapa lama.. entah! Hanya waktu yang bisa menjawab.
Dan tirani pun pulang dengan perasaan senang, permasalahan nya dapat di selesaikan hari ini juga. Semilir anging yang berhembus dari jendela kecil kendaraan umum itu mengiringi indah nya lamunan tira tentang hari nanti. Tanpa dia tahu permasalahan besar yang menghadangnya di hari esok. Bagi tira hidup adalah misteri besar, jadi jalani saja.
to be continued……
Soriii, belum ada artikel sejenis. :p

{ 6 comments… read them below or add one }
Mas Aan,
Saniib siapa lagi’nih.? Wah hampir setahun saya menapak duniamaya masih sering terheran2. BW kesana kemari sering kesasar2.
Saya mau tanya, dulu blog saya domain-nya ingat saya berlangganan/menyewa. Itu untuk berapa tahun? Kala akan habis saya masih bertahan hidup didunia maya ini caranya bagaimana untuk perpanjangannya? Tolong informasi. Jangan lupa email saya yang aktif yang google. Email yang yahoo sudah tidak aktif.
Saya tunggu beritanya. Terima kasih
Wuih, panjang uamir……..
Hmm biar panjang tp lumaya n bagus crita nya. Lumayan buat nemenin makan siang. Trims.
bagus.. sesuai dengan fakta dunia maya
yang poker gw banget gitu looohhh
terusin dong !!!
masak cuman segitu. gaya bahasa nya unik but saya suka