Semalam cuaca mendung, namun suasana kota Surabaya tetap seperti biasanya, ramai. Saya bergegas mengambil helm hitam merk VOG lalu menenteng Jupiter Z biru keluar Gubug Kost 36B. Saya bermaksud refreshing dan menghilangkan penat sesaaat setelah seharian duduk di depan komputer. Dalam benak seorang mahasiswa tingkat akhir Sastra Jepang ini hanyalah jalan-jalan ke Taman Bungkul Surabaya.
Mlaku-mlaku kok naik motor? Ya begitulah pergeseran bahasa, berubah memiliki makna yang lebih luas. Saat melintasi perempatan lampu merah Kertajaya, suasana begitu ramai dan bejibun dipadati kendaraan berasap. Menunggu satu menit saja seperti satu hari, malam hari serasa panas seperti siang. Asap masuk melewati hidung-hidung manusia pengguna jalan. Tapi begitulah memang suasana sehari-hari Kota Pahlawan ini.
Setelah menunggu selama 80 detik, lampu merah menjadi hijau. Suara klakson motor dan mobil bersahutan. Menunjukkan semua orang sedang terburu-buru untuk segera sampai tujuan. Saya hanya geleng-geleng kepala melihat kondisi seperti itu. Dalam benak saya bertanya, “Kok ora sabaran emen seh uwong-wong iki? Zzz…” Setelah semua motor dan mobil di depan saya melaju, giliran saya memutar handgrip kanan Jupiter Z, Jupiter Reyot pun melaju ke Taman Bungkul Surabaya.
Setelah perjalanan dekat namun lama gara-gara kemacetan kota Surabaya, akhirnya sampai juga di Taman Bungkul. Surabaya memiliki banyak taman, namun yang terkenal dan banyak dikunjungi warga adalah Taman Bungkul ini. Di Taman Bungkul, saya langsung disambut tukang parkir yang memberitahu dimana saya bisa meletakkan Jupiter reyot. Karcis parkir saya terima, kemudian langsung bergegas berjalan ke bundaran Taman Bungkul.
Baru naik ke trotoar Taman Bungkul, saya tertabrak oleh gerombolan gadis yang juga menikmati ramenya taman itu. “Maaf mas…” begitu katanya, saya hanya tersenyum kegeeran. Dalam hati saya berbisik, “wow, ayu tenaaan, modelmu koyok Asmirandah mbak yang baju putih…”. Tapi hanya dalam hati, sebuah mulut saya tidak pernah berani berkata seperti itu jika di depan seorang gadis.
Bergegas ke bundaran Taman Bungkul, saya melewati berbagai pedagang. Mulai makanan kecil yaitu pentol ojek alias cilok, bakpau, kacang, kembang gula, lumpia, sampai bakso, nasi campur, lodeh, ayam goreng, soto, semuanya ada. Kaki ini semangat untuk terus melangkah, hingga sampai ke trotoar yang kanan-kirinya dipenuhi bermacam-macam produk. Diantaranya mainan anak, asesoris untuk anak muda, asesoris bonek mania, tatoo, sampai asesoris untuk orang berumur seperti akik (cincin besar), songkok, pipa rokok, dan banyak lagi.
Ramainya Taman Bungkul yang sebenarnya adalah sebuah taman yang dibangun sebelah makam Mbah Bungkul ini ternyata sudah mengundang berbagai manusia yang ingin mengais rejeki dari sana. Pedagang, pengamen, pengemis, memadati taman yang berbentuk bundar itu. Baru sampai di tepi bundaran taman, saya didatangi oleh dua anak perempuan yang mungkin masih SD. Dia menjual minuman, namun cara menjualnya seperti pengemis. Bukannya saya menjelekkan mereka, namun inilah kenyataannya. “Maaas, belioo maas… aku belum makan maas… ayo lah maaas… beli satuu ae…”, begitulah kira-kira mereka merayu saya. Tapi alamat saya tidak tertarik, saya menolak dengan halus. Mereka sepertinya marah, tapi saya memang lagi egois saat itu, maafkan saya ya dik?
Langit mendung malam itu dihiasi oleh kelap-kelip indah baling-baling bambu. Mainan yang dilontarkan ke atas dengan karet ini sangat banyak ditemukan di Taman Bungkul. Saya tidak pernah tahu harganya, namun yang jelas andai saja saya masih SD, saya langsung minta mainan itu ke orang tua. Bersyukur saya tahu Taman Bungkul sewaktu kuliah di Surabaya. Saat saya kecil, di Trenggalek belum ada baling-baling yang ada lampunya kelap-kelip seperti itu.
Bukan hanya baling-baling bambu, di langit Taman Bungkul juga ada mainan kupu-kupu yang bisa terbang, ada juga pesawat dari gabus. Semua itu menghiasi ramainya taman kuburan yang dulunya sepi itu.
Saya mulai duduk di tepi air mancur Taman Bungkul. Sedikit kecipratan air ndak masalah. Yang penting bisa menikmati sebatang A Mild yang tersisa di kantong saya. Sebelum mengeluarkan korek api, saya memesan secangkir kopi susu pada seorang pemuda yang menjual berbagai macam minuman baik dingin maupun panas. Pemuda yang berjualan dengan istrinya (mungkin juga pacarnya). Sungguh bahagia melihat pasangan itu bekerja bersama-sama. Meskipun mereka hanya menjual minuman, namun di wajah mereka terpancar kebahagiaan yang mampu membuat hati saya tersenyum.
“Berapa mas?”, saya bertanya harga kopi susu Torabika kepada mas penjual. Mas penjual itu menjawab, “dua ribu mas”. Transaksi pun dilakukan, kemudian saling memberi ucapan terimakasih terdengar diantara telinga kami.
Tak lama kemudian saya mendengar musik yang cukup keras. Musik itu adalah musik dari topeng monyet yang diperagakan oleh beberapa orang di Taman Bungkul. Monyetnya lucu, bisa naik sepeda motor kecil. Bisa naik skuter kecil, mirip Po di Teletubbies. Namun belum mendapatkan kesempatan untuk meminta uang kepada penonton, suara dari pengeras suara Taman Bungkul berteriak. “E, Tes.. Tes.. TOLONG MUSIKNYA DIMATIKAN! INI SUDAH MALAM! ADA PENGAJIAN! SANGAT MENGGANGGU!! SIAPA ITU YANG MUSIKAN? SUDAH MALAM! HORMATI YANG PENGAJIAN!!”, begitulah teriakan penjaga Taman Bungkul malam itu. Teriakan yang memutus rantai pendapatan tukang topeng monyet…
Dalam hati saya bergejolak, diantara pro dan kontra. Di satu sisi saya kasihan sama topeng monyet itu, di sisi lain memang kita harus menghormati seseorang yang melakukan ibadah. Namun setidaknya mbok ya yang sopan pemberitahuannya dan tidak perlu berteriak-teriak seperti mau perang saja. Akhirnya saya melemparkan secarik kertas yang sudah saya lipat-lipat ke monyet kecil itu, mungkin kertas itu sangat berarti untuk bapak tukang topeng monyet…
Setelah melihat fenomena Taman Bungkul itu, saya sampai lupa tidak menyalakan sebatang A Mild yang daritadi saya pegang dengan tangan kiri. Akhirnya saya mengapit benda putih itu dengan mulut saya dan mulai menyalakan korek api. Asap putih keluar setelah saya menghisapnya, inilah yang kadang menjadi perdebatan antara haram dan tidak. Namun saya tidak mau berdebat, saya hanya ingin menikmatinya.
Kopi susu itu sangat nikmat, saya nikmati teguk demi teguk secara lambat. Istimewa sekali, membuat pikiran saya tenang dan senang. Membuat lamunan saya lengkap setelah dipadu dengan asap A Mild tadi. Masa bodoh dengan segala masalah yang pernah saya alami, saya nikmati semuanya pada malam itu. Biasanya di Gubug saya ngopi tidak senikmat itu, mungkin suasana baru sangat menentukan kenikmatan kopi? Atau hanya perasaan saya saja yang mungkin sudah gila malam itu? Saya sering tersenyum sendiri sambil menghisap A Mild, sesekali menghembuskannya menjadi bulatan-bulatan asap yang indah. Saya senang sekali malam itu, saya melihat banyak hal, banyak manusia yang berbeda, banyak perjuangan untuk sekedar memperoleh sesuap nasi.
Hingga pada akhirnya saya melihat seorang anak kecil yang tersenyum manis, tertawa melihat saya. Anak itu kira-kira masih dua tahun umurnya. Lucu sekali. Saya ikut tersenyum dan akhirnya saya merasa bahwa di Taman Bungkul merupakan surga bagi saya yang sedang merasa penat.
taman bungkul malam hari
Ini yang berhubungan:

{ 12 comments… read them below or add one }
ehem ehem
yang du’a du’an siapa tuh
penggambarannya bagus banget mas..
hihi
mas beken mahasiswa sastra jepang thoo
wkkwkwkwkw
bikin blog belajar bahasa jepang aja mas
prospek seonya lagi bagus tuh
iya anak zaman sekarang, merayunya beli makanan kayak gitu,,,
sedih juga sih lihatnya
hihihi
kapan kapan ke sana aah XD
.-= oby´s last blog ..Beruang Lucu nan Pintar Part 1 =-.
@Oby, hehehe… ndak ngerti aku Ob… Lha mereka pacaran didepanku…
Heee… lagi males aku ngomong Jepang. :p Iya sih bagus, tapi belum menghasilkan kalo dibuat Jepang-Indonesia. Kalo Jepang-Linggis sih lumayan, tapi Linggisku semrawut… hahahay
Hmm… Ya begitulah Ob, sekarang jaman makin susah… Apapun dilakukan, termasuk makan temen sendiri seperti yang telah tak tulis kemaren.
Yawes, kapan2 mampir ya?
wah ini curhat apa cerpen… hhay
baca dulu ya gan…
.-= theradits´s last blog ..Menangkap Eksistensi Bonek lewat Kamera =-.
@Theradits.. Hehhee… dua duanya lah mas Rad!! monggo-monggo dibaca. Hehehe… Ini penggambaranku soal TB mas….
wah…sampeyan arek suroboyo toh?…aku yo nek golek inspirasi yo nang taman bungkul
.-= anung´s last blog ..Menanti Buah yang Ranum dari Sebuah Pohon =-.
@mas Anung.. aseline bukan mas, aku wong ndeso oe.. Nggalek. Hehehe… Iki lagi berkelana di Suroboyo. Jadi ya harus ngerti tempat-tempat sing sering dikunjungi arek-arek mas.
Salam kenal mas Anung.
tamannya kalu siang apik ga de?
asyik ya bisa nikmati hiburan di taman…
.-= sunflo´s last blog ..My 4th Umrah: Menyusuri Madinah =-.
Tamannya lumayan sih mbak, ada air mancurnya, tempat skater, tanamannya diatur (sayange ga boleh injek rumput
)
Mbak Sunflo ini dimana sih? kayaknya di Saudi ya? hheheeh…
salam kenal mas,
sampean pinter lho mendeskripsikan pengalaman, natural
kapan2 lek nang bungkul mampir nang PKL akik2 ( depan pintu masuk makam mbah bungkul ), engko lak ketemu asmi randa(rondo).
ok see u..
sama-sama mas, walah pinter piye loo? biyasa ngono lo mas. hee,…
hmm…. saya sering mas ke taman bungkul, ya ngopi sambil internetan di dekatnya pintu masuk makam situ, sayange ndak ada cop copane listrik, dadi yo muk sedhilut.. heee…
wow, asmirondo nekno mas? wkwk… insya Allah kapan2 tak mampir mas nek dolan mrono meneh.
“wow, ayu tenaaan, modelmu koyok Asmirandah mbak yang baju putih…”. Tapi hanya dalam hati, sebuah mulut saya tidak pernah berani berkata seperti itu jika di depan seorang gadis.
gasak aja Gan!!! hahahaaa…
ok bangetz
{ 3 trackbacks }