Kemana Lagi

cinta yg dulu manis bak sekotak coklat…
kini pahit bak sebutir buah pare…..
kata cinta yg dulu sering kau lontarkan..
kini tak ada lagi ku dengar…
ku tlah kehilangan mu….
tersesat di dalan kegelapan hatiku.
ke’egoan mu dan ke’egoan ku tlah meluluh lantakan indah nya kebersama’an kita.
ingin rasanya membenci dan melupakan diri mu dan berlari sejauh mungkin….
tapi entah kenapa…….
aku tak bs melupakan mu..
semakin aku melupakanmu…
semakin kuat bayang mu di pelupuk mataku..

Puisi untuk Sahabat: “Bersamamu Aku Tegar”

Disini, ku sadar
Betapa indahnya arti ketulusan
Betapa berartinya sebuah persahabatan
Hanya ditempat inilah aku merasakan indahnya kebersamaan

Disini..
Tak pernah ku dengar kebohongan dari dirimu
Semua mengalir apa adanya
Berjalan dengan sebuah kejujuran

Tangis tak lagi terpancar di diriku
Kepenatan tak pernah menghampiriku
Hanya canda dan tawa
Yang selalu terdengar dari bibirku

Sahabat,
Taukah engkau, kenapa Tuhan mempertemukan kita?
Kenapa Tuhan mengirim mu
Untuk hadir di kehidupanku
Untuk hadir menemani hari-hariku

Kini ku tahu,
Kenapa Tuhan lebih memilih mu
Dan bukan orang lain
Karena kau adalah pilihan terbaikNya

Sahabat,
Kini, bersamamu ku bisa tegar
Untuk menjalani kehidupan ini
Meskipun badai menghadang

I Miss You

Aku tak pernah bikin puisi bahasa Inggris sebelumnya. Mungkin ini puisi pertama dengan lirik Linggis. Ya biar dikata gahoel gitu, walo ngawur tapi ini terlintas begitu saja dalam pikiran. Puisi ini sebenarnya tak pernah tertulis, tapi langsung terketik dalam layar 4,3″.

Baru selesai nulis, aku rasa puisi cinta yang bercerita tentang kerinduan yang sangat amat ini bikin trenyuh sendiri. Dan setelah dibaca teman dekat, Katanya malah copas dari mbah Google.. astaga…

Yadah deh segini dulu prakata tentang puisi ini… Continue reading “I Miss You”

Berpuisi Bersama Pohon Bernyanyi – Akhudiat

Malam itu masih bisa dibilang sore, namun bapak-bapak yang umurnya diatas 50 tahun sudah pada kumpul di Gayungsari Barat. Aku perhatikan senyum mereka satu per satu, sepertinya mereka baru saja bertemu setelah sekian lama tak bertemu. Penampakan mereka cukup aneh, ada yang pakai batik, ada yang jenggotnya super panjang dan berwarna putih bersih, ada yang sperti dukun, dan lain sebagainya. Aku manggut-manggut saja, ya begitulah penampakan orang yang suka akan kesenian, memiliki ciri khas yang dijunjung oleh pribadi masing-masing.

Suasana Gayungsari Barat yang semula sepi menjadi semakin ramai saat kawula tua-muda memenuhi pelataran rumah nomor 25-27 itu. Tampak seorang Akhudiat, penulis buku antologi puisi Pohon Bernyanyi yang sedang duduk dikerumuni teman-teman lamanya. Dia menunggu acara dimulai sambil ngobrol dan tertawa bersama teman-temanya. Continue reading “Berpuisi Bersama Pohon Bernyanyi – Akhudiat”

Berkurang Lagi Umurku

Sampai hari ini, ternyata sudah lama juga aku hidup. Meski terbilang muda, masih kepala 2, tapi aku rasa lumayan lama juga. Yang heran, sudah 5 tahun kuliah kok ndak lulus-lulus. Ha ha.. Bukan lulus sih yang aku cari, tapi nilai. Nilai-nilai kehidupan, suatu jalan agar bisa hidup dan berguna bagi orang lain. Meskipun sekarang belum tercapai, namun aku selalu berusaha. Meski banyak yang mencibir, namun aku akan selalu tabah menerimanya…

Umur manusia tidak akan bertambah, semua sudah tahu itu. Tapi nilai dari kehidupan manusia bisa bertambah seiring bertambah umurnya, entah nilai baik atau buruk. Sebenarnya tidak ada niat untuk mencegah diri sendiri atau orang lain untuk berbuat buruk. Namun itu yang telah tertanam dalam diri ini dari dulu, mencegah yang buruk terjadi dan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik, berbuat baik untuk orang lain, dan malas merugikan orang lain. Continue reading “Berkurang Lagi Umurku”

Puisi tentang Kucing: Berkahilah Aku, Dewa

Aku adalah kucing rumah
Setiap hari kutunggu dewa untuk memberiku makan dari langit
Semakin kutunggu, semakin dia iba
Sepotong ikan jatuh dari langit, yummy…

Setiap hari aku berdoa kepada-Nya
Mengeong, lari untuk mendekat
Tapi hari ini lain, Dewa mungkin tlah hilang

Kutanya ayam betina, kemanakah Sang Dewa?
Petok… Petok… Ku tak tahu, petok…
Kutanya ayam jantan, kemanakah Sang Dewa?
Kukuruyuk… Entahlah… Kukuruyuk…

Perutku kering, tak ada ikan jatuh dari langit
Perutku perih, aku berjanji apapun akan aku makan
Tubuhku lemas, aku tak bisa berdiri lagi
Menyesal, kenapa tidak dari kemarin aku berburu sendiri
Dewa, jangan biarkan hambamu mati kelaparan
Tolonglah aku, berkatilah aku, Dewa…

 

kucing dewa kelaparan

Gambar dari: http://kakaakin.info/tag/kucing/

[poll id=”6″]

Puisi: Kata-Kata

Kau selalu saja mengatakan hal yang tidak ingin ku dengar
Aku terlalu mengerti maksudmu, karena itulah aku tak ingin dengar,
Aku berpura-pura tidak tahu menahu, tapi kau semakin memojokkanku
Kemudian dengan sombongnya kau berkata, kata-kata yang menyakitkan itu

Kau selalu saja mengatakan hal yang ingin aku lupakan
Aku terlalu paham tentang pembicaraanmu, karena itulah aku tak ingin ingat
Aku berpura-pura telah melupakannya, tapi kau terus menyudutkanku
Kemudian dengan lembutnya kau berkata, kenangan yang menyebalkan itu

Jika kau tak suka aku
Maka katakan dan menjauhlah dariku
Jangan membunuhku perlahan dengan kata-katamu yang tajam
Kata-kata itu menusukku lebih tajam dari pisau
Tak terlihat dan lukanya takkan bisa hilang Continue reading “Puisi: Kata-Kata”

Puisi Maaf: Confusion

Berikut ini adalah puisi kiriman dari sahabat Gubug, mas Empip. Terimakasih telah mengirim puisi dengan judul “Confusion” ini. Setelah saya baca, mas Empip sepertinya baru ditinggalkan seorang kekasih. Beliau meminta maaf dengan segenap upaya, namun belum juga bisa dimaafkan. Pada akhirnya menulis luapan dan ungkapan hatinya pada bait-bait puisi yang berjudul “Confusion” ini. Terimakasih atas puisinya ya mas? 🙂

Berikut puisi maaf yang berjudul “Confusion” Continue reading “Puisi Maaf: Confusion”

Mohon Maaf Lahir Batin Yaa *sori telat, heee*

Idul Fitri, hari yang suci. Umat Islam di seluruh dunia merayakannya setahun sekali, dalam perayaannya selalu berharap bisa kembali pada pribadi yang fitri, suci dari dosa. *halah* Saya ini ndak bisa kalau disuruh nulis indah. Jadi seadanya saja ya? Hihi…. Ini juga posting Idul Fitri saat orang lain sibuk untuk arus balik. Wah, Gubug Reyot ndak update blass! Saking malesnya, atau ndak ada waktu buat internetan di desa ya? Siapa bisa nebak hayo? Hee… Sampai-sampai kecolongan banyak sekali ucapan kepada saya, yang belum sempat saya balas. Tapi tenang saja, sudah tak bales via sms. *untung pas punya pulsa* hee… Berikut ini adalah salah satu ucapan kepada saya via email, dari Eyangkung. Makasih ya Eyang! 🙂

MENGUCAPKAN:

SELAMAT HARI RAYA IEDUL FITRI

MOHON MAAF LAHIR BATIN, SEMOGA ALLAH SWT SENANTIASA MELIMPAHKAN

RAHMAT DAN HIDAYAH-NYA KEPADA KITA SEMUA. AMIN.

Continue reading “Mohon Maaf Lahir Batin Yaa *sori telat, heee*”

Puisi untuk Pahlawan: PUSARA PAHLAWAN

Puisi untuk pahlawan ini khusus untuk menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-65. Puisi pahlawan dengan judul “Pusara Pahlawan” ini ditulis oleh seseorang dengan nama Kakanda, terimakasih buat Kakanda telah bersusah payah mengirimkan puisi pahlawan untuk Gubug Reyot. Saya harap dengan dituliskannya puisi ini bisa menambah khasanah sastra Indonesia juga. 😉 Continue reading “Puisi untuk Pahlawan: PUSARA PAHLAWAN”

Puisi untuk Sahabat Sejati, Hilang dan Kembali

sahabat sejatiSahabat adalah harta paling berharga di dunia ini. Mungkin telah banyak yang mengulas tema sahabat sejati, atau sahabat yang hilang dalam bentuk karya sastra, karya populer, film kartun, ataupun yang lainnya. Nah di Gubug Reyot ini saya ingin menulis sebuah puisi tentang sahabat, puisi untuk sahabat sejati. Continue reading “Puisi untuk Sahabat Sejati, Hilang dan Kembali”

Puisi untuk Sahabat yang Hilang

Puisi ini saya tulis untuk sahabat saya yang hilang, kekecewaan saya terhadap sahabat, dan untuk teman-teman yang belum pernah kehilangan sahabat, jangan sekali-kali mengecewakan sahabat…

Puisi ini memang ngga jelas, saya merasa punya hutang juga soalnya. Lha banyak yang kesasar kesini gara-gara mencari puisi untuk sahabat yang hilang… Monggo, silakan dinikmati… Tapi inget lo ya, saya bukan ahli berpuisi…

Continue reading “Puisi untuk Sahabat yang Hilang”