Kemana Lagi

cinta yg dulu manis bak sekotak coklat…
kini pahit bak sebutir buah pare…..
kata cinta yg dulu sering kau lontarkan..
kini tak ada lagi ku dengar…
ku tlah kehilangan mu….
tersesat di dalan kegelapan hatiku.
ke’egoan mu dan ke’egoan ku tlah meluluh lantakan indah nya kebersama’an kita.
ingin rasanya membenci dan melupakan diri mu dan berlari sejauh mungkin….
tapi entah kenapa…….
aku tak bs melupakan mu..
semakin aku melupakanmu…
semakin kuat bayang mu di pelupuk mataku..

Kafka on the Shore dan Teori Freud

Kafka on the Shore dan Teori FreudKafka on the Shore (Umibe no Kafuka) atau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai Labirin Asmara Ibu dan Anak ini adalah sebuah novel karya Murakami Haruki yang telah mendapatkan banyak sekali penghargaan.  Sebenarnya saat dulu pertama diterbikan di Jepang, novel ini banyak mendapatkan cemoohan. Kafka on the Shore dalam teori perbandingan (dibandingkan dengan karya besar penulis Jepang lainnya) dianggap tidak sepadan. Sehingga orang Jepang/pengamat sastra Jepang menganggap novel ini adalah karya Murakami yang gagal. Tidak sepadan disini maksudnya adalah seperti analogi berikut:

Apabila sampeyan ingin menjadi seorang penulis terkenal di Indonesia, setidaknya karya sampeyan itu sepadan dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer, NH Dini atau kalau bisa melebihinya. Sampeyan bisa? Semangat pokokke, pasti bisa! 😉

Namun setelah novel ini diterjemahkan ke berbagai bahasa, Kafka on the Shore laku keras. Amerika, China, Irlandia, dan banyak lagi hingga diterjemahkan ke 40 bahasa (kalau di Indonesia laku ndak ya? Pasti dicekal UU pornografi?  =,=a). Kenapa novel ini laku keras perrmirrsaa?? Wuah, ini yang harusnya jadi pertanyaan. Apa yang menarik ya dari Kafka on the Shore ini? Judul postingan juga ada mbah Froid, eh salah ejaan, Freud ding disana. Continue reading “Kafka on the Shore dan Teori Freud”